Malam-malamku berlalu dengan menahan rasa perih. Nucalale tetap setia menghunus senyumannya dan menikamkannya tepat di jantungku. Ia yang pertama terbit di kepalaku ketika pagi dan terakhir kali lelap ketika malam uzur tiba, lalu kami bertemu dalam mimpi. Barangkali ia setan, ahh tidak juga!! Aku hanya mampu memungut senyuman-senyumanmu pada setiap perhentian di sudut Kota Kabut itu. Aku membisu ketika mulai menemukan secarik senyumannya dan membiarkan senyuman itu berbicara. Ah Nucalale, aku jatuh cinta setengah mati padamu.

Kota itu bagai kota mati ketika aku mencoba merangkak di dekapannya sekedar untuk mencari kehangatan. Aku terpana menyaksikan panorama kabut yang dingin namun mempesona. Ya, aku terpesona dengan gumpalan-gumpalan gemawan yang merangkai kota itu menjadi begitu indah dalam pandanganku. Kota ini aku beri nama kota kabut. Kota kabut yang mengajari banyak hal tentang cinta yang tulus dan perjuangan yang pernah kenal kompromi. Kota kabut mengajariku menjadi apa dan siapa yang berarti, bahwa tidak pernah ada titik aman dalam hidup dan bahwa semua orang berjuang mempertahankan hidupnya sendiri. Kota kabut menorehkan sensasi luar biasa bagiku, teristimewa tentang ketulusan, mencintai tanpa tanpa embel-embel. Kota ini bukan kota mati, dia hanyalah kota berkabut dengan sensasi dingin yang menggores kulit. Pada perhentian-perhentian kota ini untuk pertama kalinya aku melihat senyuman manusia membuncah bak mentari yang menghangatkan setiap hati setiap  insan yang sempat bertandang ke kota ini. Aku terus berlangkah tapak demi tapak menelusuri lorong-lorong kota itu. Mentari enggan menampakkan mukanya yang semrawut lantaran dihalangi oleh titik-titik air dari kabut itu. Otot-otot kakiku serasa lemas lantaran terus berlangkah tanpa henti dan aroma kabut yang membahasakan padaku bahwa aku kelelahan setelah lembur semalam-malaman di kantor. Rupanya aku kehabisan energi ketika harus berhadapan dengan tumpukan-tumpukan kertas dan terpaan radiasi komputer yang memuakkan itu. Dalam situasi seperti ini, pikiranku hanya tertuju pada kopi. Bagi sebagian besar orang, kopi merupakan sejenis minuman yang berdampak buruk bagi kesehatan namun bagiku kopi adalah segalanya. Bagiku, kopi adalah peneduh rasa, penyegar jiwa dan sumber inspirasi. Kata ibuku ketika masih dalam kandungan, aku sering merengek melalui ibuku untuk diberi kopi dan selepas kelahiranku, aku malahan terus merengek minta minum kopi. Aku tak terlalu percaya pada ocehan ibuku, namun aku akan terima realitas itu apabila memang sesuai dengan keadaan sebenarnya. Aku berusaha membuka mata dan merangkak menuju salah satu lapak di ujung jalan tepat di jantung kota kabut itu. Lapak itu tempat seorang wanita setengah baya menjaja kopi. Aku berseloroh setengah bisik kepada wanita itu sembari meminta secangkir kopi panas. Aroma kopi menyeruak menyelimuti getasnya pagi itu. Kopi ini begitu sedap, sangat sedap ketika aku mencoba menyeduhnya pada tegukan pertama. Rasanya bak seorang pemuda yang jatuh cinta pada tatapan pertama dengan seorang gadis.

“Ahhh…. rasanya berlebihan” tukasku sembari tersenyum simpul.

Aku rupanya kembali bertenaga setelah meneguk kopi itu. Aku seolah kembali meraih hidupku setelah sekian lama hilang dari pentas hidupku beberapa saat yang lalu.

Aku terduduk simpul di depan lapak itu tepat di atas sebuah bale-bale bambu. Angin berhembus kencang sehingga aku harus kembali membetulkan jaketku yang agak lusuh.

“Ina, aku pesan satu gelas kopi panas ya…”

Tiba-tiba aku mendengar suara ocehan seorang gadis memecah keheningan pagi itu. Aku berusaha membalikkan badanku untuk sejenak melirik ke arah pemilik suara itu. Aku tertegun ketika melihat tatapannya yang anggun sekaligus menikam hingga ke tulang sumsumku. Dadaku berdebar-debar dan urat-urat nadiku serasa akan putus. Apakah ini salah seorang bidadari yang sengaja dikirimkan untuk mengintai kota kabut pagi ini? Lantas mengapa aku berdebar-debar ketika beradu pandang dengannya?

Gadis berambut pirang itu lalu duduk tepat di depanku. Aku semakin gagu dibuatnya. Aku berusaha menampilkan senyum paling manis padanya namun hasilnya nihil. Aku seolah tak berdaya dibuatnya. Satu hal yang tidak mampu aku lakukan saat itu adalah menatap bola matanya. Entah mengapa bola matanya seperti pedang bermata sepuluh yang menghunus tepat di jantungku. Aku berusaha menerobos rasa sakit di hatiku sambil memaksakan diriku menatap bola matanya. Aku terbelalak kaget ketika dalam bola matanya aku temukan secercah bianglala yang amat indah. Keringat dingin bercucuran di sekujur tubuhku. Aku semakin kelabakan. Rupanya aku mulai jatuh hati pada pandangan pertama

dengan si gadis berkulit kuning langsat itu. Tubuhnya gemulai dengan lekukan-lekukan tubuh ideal. Senyumannya sendu menawan sementara bibirnya merah merona bak mentari yang siap menghangatkan dinginnya kota kabut itu. Kami beradu pandang cukup lama setiap kali meneguk kopi. Aku gagu dan aku berusaha melemparkan senyum yang paling tulus yang keluar dari dasar jiwaku yang paling dalam.

“Kamu suka kopi?” tukasku pelan.

Ia tersenyum manis padaku sembari menganggukkan kepala sementara itu lesung pipinya terbit indah di bawah pelupuk matanya. Aku semakin gelapan dibuatnya. Dugaanku tidak lagi meleset dan aku sungguh jatuh hati pada gadis berkulit kuning langsat itu.

Panorama dinginnya pagi itu tidak lagi kurasakan. Mentari yang merona dari bibirnya yang tipis dengan sorot mata yang menawan sungguh menghangatkan seluruh raga bahkan seluruh jiwaku. Aku baru akan menanyakan namanya ketika ia beranjak dari tempat duduknya. Aku tersipu malu ketika sorot mataku tak lagi ia balas.

“Ini bayarannya bu. Saya permisi dulu ya” tukasnya sembari menyodorkan uang lima ribuan kepada wanita penjaja kopi itu.

Aku terus memandangi lekukan tubuhnya yang menurutku paling ideal di muka bumi ini. Sebelum ia beranjak keluar lapak, ia sempat membalikkan badanya ke arahku sembari melemparkan senyuman yang paling manis. Kami seketika saling menatap satu sama lain sambil saling melempar senyuman yang paling tulus. Dadaku berdebar-debar sementara itu jiwaku bergejolak ketika gadis berkulit kuning langsat berambut pirang itu lesap dimangsa kabut.

“Ahhhh…. sialan!!! mengapa aku begitu bodoh di hadapan seorang wanita? Mengapa aku tak sempat menanyakan namanya?” tukasku pelan sambil menepuk dada tanda penyesalan.

Hari itu bergulir dalam angan yang tak kesampaian. Raga gadis itu memang telah hilang dimangsa kabut namun ingatan tentangnya tidak pernah hilang dari kepala dan rongga dadaku. Aku memang sungguh jatuh hati pada gadis itu. Waktu terus bergulir dan siang yang uzur lesap dimangsa malam pekat sepekat rasa cintaku pada si gadis itu. Aku mencoba mengingat kembali fragmen singkat nan romantik siang tadi, mulai dari awalku dengar suaranya yang lembut menyayat hati, fragmen saling tatap yang begitu mesra dan senyuman terakhirnya yang mengkristal bersama rindu mendalam dalam hati ini. Aku didera perasaan bersalah lantaran tak sempat menayakan nama gadis itu. Aku hanya mengingat sebuah tulisan tepat di samping kanan gadis itu yang bertuliskan “Nucalale”. Tulisan itu barangkali papan nama, tanda pengenal si gadis berlesung pipi itu.

Malam-malamku berlalu dengan rintihan menahan perih. Gadis itu sungguh menghunus senyumannya dan menikamkan tepat di jantungku. Dalam rintihan itulah aku membabtis namanya menjadi Nucalale. Ya gadis itu bernama nucalale. Aku sungguh mencintai Nucalale. Nucalale adalah bayangan yang pertama kali terbit di kepalaku ketika pagi dan ia yang paling terakhir kukenang sebelum malaikat malam membawaku ke alam mimpi. Di alam mimpi aku kembali berjumpa dengan senyumannya yang menawan dan menikmati indahnya bianglala yang terbit dari matanya yang sembab. Hal paling tragis yang sungguh membuatku menderita adalah momen perpisahan dengannya dalam buaian alam mimpi. Pada satu sisi aku ingin selalu bersamanya dalam mimpi sementara pada lain sisi aku harus kembali ke alamku untuk menjalani hidupku sebagaimana mestinya. Aku pernah berpikir bahwa gadis itu barangkali setan, namun aku kembali menepis pikiran itu. Cinta memang segala-galanya. Ia mampu menyulap seseorang menjadi setan ataukah menjadi malaikat. Cinta akan membawa seseorang pada puncak keindahan terindah namun juga mencampakkan seseorang dalam derita yang tak kunjung henti. Cinta dapat menyanyikan simfoni terindah bagi hidup seseorang namun ia juga mampu membersitkan nyanyian elegi paling pilu. Tidak ada seorangpun yang mampu mengelak dari tepisan cinta dengan rasa yang menurutku gado-gado itu. Tidak ada seorangpun yang mampu lari dari cinta selain menyerahkan dirinya dalam nadar cinta, memberi tangannya untuk diikat oleh cinta dan mempersembahkan hatinya untuk diobok-obok oleh cinta. Pada titik ini aku mulai percaya pada Gibran, si penyair Libanon itu, “Ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku, jika cinta memelukmu dekaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu”. Gadis Nucalale itu telah membawaku ke puncak keindahan paling indah sekaligus berhasil membawaku ke derita yang amat perih lantaran belati di balik sayapnya yang menikamku tanpa belas kasihan. Ahh Nucalale, aku jatuh cinta setengah mati padamu.

Nucalale adalah gadis berkulit kuning langsat, dengan bola mata bianglala dengan seloroh senyuman yang paling menawan. Kekuatan terbesarku saat ini ialah menyatakan bahwa aku sungguh mencintainya. Malam-malamku aku lewatkan dengan derita lantaran senyumannya memborbardir jiwaku. Perjumpaanku dengannya dalam mimpi-mimpiku mengajariku bahwa cinta tidak selamanya memiliki dan bahwa konsekuensi yang aku terima ketika kuputuskan untuk jatuh cinta ialah rasa sakit. Nucalale kini dan mungkin selamanya akan tetap menjadi yang terindah, segala-galanya dalam hidupku. Aku mencintai Nucalale gadis berambut pirang yang kini mendiami relung hatiku yang terdalam.

Kabut di kota itu sudah lesap ketika mentari mulai meninggi. Untuk kesekian kalinya aku bercokol di lapak wanita penjaja kopi itu sambil berharap bisa kembali berjumpa dengan Nucalale. Namun penantian penuh rindu itu seakan tidak pernah akan berujung. Barangkali Nucalale sudah menjadi setan yang terus bergentayangan dalam hidupku sembari terus menggerogoti seluruh hidupku. Aku terus bercokol di lapak itu sembari terus mengenang fragmen jatuh cinta yang membuatku sungguh terjatuh dalam ruang cinta yang paling indah sekaligus penuh derita. Matahari kian meninggi bersama dengan rindu yang terus membuncah pada sosok Nucalale, pujaan hatiku. Yang mampu aku lakukan saat ini adalah berusaha menjadi setia memungut senyuman-senyuman Nucalale yang pernah berceceran pada setiap perhentian di sudut-sudut kota kabut itu. Ketika aku mulai menemukan secarik senyumannya yang menawan aku membisu membiarkan senyumannya yang berbicara padaku . Ahhh Nucalale aku jatuh cinta setengah mati padamu.

Tinggalkan Komentar
Categories: Sastra

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).