Sejarah menuliskan bahwa memberikan persepuluhan adalah tradisi budaya (orang kafir) di timur tengah, itu adalah hal yang biasa mereka lakukan, sebelum hukum Taurat ada.

Abraham satu kali memberikan perpuluhan kepada Melkisedekh dari hasil rampasannnya (Kej 14). Yakub satu kali memberikan perpuluhan sebagai nazar bila Tuhan meluputkan dia dari kakaknya Esau (Kej 28), namun dia melakukannya bukan karena sebuah kewajiban.

Kitab Kejadian sampai ulangan menuliskan beragam tentang perpuluhan yang diserahkan ke bait suci, ada yang digunakan untuk bani lewi, janda anak yatim sampai dimakan bersama sama oleh dirinya sendiri dan keluarga bersama dengan bani lewi. Imamat 27, Bilangan 18, Ulangan 12. Jadi mengapa harus selalu memakai maleakhi 3:10 saja?

Pada masa perjanjian lama, pada dasarnya perpuluhan hanya memiliki satu sasaran yaitu bait suci ( karena itulah satu satunya gereja yang ada saat itu), perhatikan apa yang dikatakan Alkitab tentang perpuluhan: “Berikanlah perpuluhan itu dimana Tuhan perintahkan untuk diserahkan”.

Namun zaman kita hidup sekarang, ada jutaan gereja yang muncul, maka kita perlu yakin untuk memilih salah satu gereja dimana Tuhan inginkan kita menyerahkannya.

Realitanya sebagian besar berkata “serahkanlah perpuluhan dimana engkau digembalakan” statement ini adalah hasil doktrinasi dari alhi farisi modern, demi perusahaan bisnis gereja yang dikelolanya, supaya semakin lama mereka semakin kaya. (Orang model begini tidak bisa disebut bani Lewi).

Prinsip perpuluhan adalah untuk memelihara kehidupan bani Lewi, bukan menjadikan mereka kaya raya, sebab bani Lewi tidak mendapatkan tanah warisan dan hidupnya didedikasikan sepenuhnya untuk melayani di Bait Suci. Dan perpuluhan didistribusikan bagi semua bani Lewi dimanapun mereka berada (seluruh suku Lewi yang Fulltime).

Berbeda dengan persepuluhan gereja gereja modern yang sangat berkembang saat ini , khususnya Pentakosta – Kharismatik, persembahan persepuluhan dikelola oleh HT itu sendiri, karena menganggab jemaat itu dombanya dan digunakan untuk kebutuhan pribadinya dan akhirnya dipakai untuk memuaskan gaya hidupnya dan keluarganya.

Seharusnya bila melihat penggunaan perpuluhan yang benar maka perpuluhan itu harus didistribusikan bagi bani Lewi lainnya yang fulltime dan melayani diseluruh daerah daerah terpencil, gereja perintisan, misioner, gereja gereja desa yang miskin, penginjilan dan lain-lain.

Apakah hal ini sdh terjadi?

Hanya gereja-gereja besar yang menikmati hasil perpuluhan melimpah karena jemaatnya banyak, sedangkan kebanyakan yang lainnya gereja kecil hidup sulit dan miskin bahkan nyaris kekurangan. Bila mereka akhirnya memutuskan bekerja sampingan diluar pelayanan demi memenuhi kebutuhan , sebagian orang berkata ” Hamba Tuhan kok tidak punya Iman” maka siapakah yang salah ?

Pesan penulis:

Bagi Hamba Tuhan yang dipercayakan jemaat banyak apakah mau berbagi dengan Hamba Tuhan yang jemaatnya sedikit , agar sesama bani Lewi tercukupkan kehidupannya.

Bila Hamba Tuhan Fulltime hidup glamor bahkan identik dengan sebutan Pastor instyle maka sebenarnya engkau bukan bani Lewi.

Bila Hamba Tuhan pengusaha, seharusnya engkau tidak memakan uang perpuluhan, sebab itu bagian bani Lewi (yang memang tidak bekerja sekuler) , boleh menjalankan perpuluhan ,tetapi diberikan sepenuhnya bagi bani Lewi lainnya yang membutuhkan. Apakah engkau rela?

Bila Gereja anda memiliki pemimpin yang benar dan dapat dipercaya, maka itu adalah tempat yang tepat bagi anda mempersembahkan persepuluhan anda.

Satu hal perlu diingat, memberikan persepuluhan karena kita sadar telah menerima berkat dari Tuhan, bukan memberikan persepuluhan agar Tuhan membukakan tingkap- tingkap langit bagi kita (itu pikiran yang salah).

Ingat perjanjian baru tidak hanya memberikan 10% tetapi Tuhan mau kita mempersembahkan seluruh kehidupan kita kepada Tuhan, sebagai korban yang harum kudus dan berkenan kepada Allah, itulah ibadah yang sejati.

Saya senang dengan seorang HT yang berkata “1000 kritik terlalu sedikit, 1 pujian terlalu banyak, semoga semboyan ini membuat para Hamba Tuhan/Ps instyle dan para pengikutnya tidak anti dengan kritikan yang membangun sesama tubuh Kristus.

Soli deo gloria

Oleh: Pdt. Yenny Novita

Categories: Kristen

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).