Menjadi konsep bahwa suami yang kerja dan juga istri mengurus rumah tangga tentu sudah jadi perihal yang universal di masyarakat, meski raden ajeng kartini telah sukses memperjuangkan emansipasi perempuan.

Realita jati diri seorang wanita masih saja cuma berkutat pada kasus rumah tangga. Begitupun suami bertugas mencari nafkah buat anak dan istri. Sebagian sudah mengenali arti gender yang sepatutnya, tetapi seluruh suami ingin menolong istri melaksanakan pekerjaan rumah si istri.

Di era jaman sekarang kebanyakan suami seolah-olahbermalas-malasan menolong istrinya mencuci piring sehabis makan dan mengepel lantai rumah yang kotor.Dalam jiwa mereka terdapat jiwa yang gengsi buat ikut meringankan beban istrinya. Perihal tersebut bisa jadi dapat maklumi bila istri tidak bekerja dan juga cuma fokus melestarikan rumah. Pekerjaan rumah dianggap sepele, akan tetapi menghabiskan tenaga yang sangat besar.

Oleh karena itu sudah semestinya para suami menolong meringankan pekerjaan rumah tangga si istri. Paling tidak membantu istri mencuci piring, memasak, mengurus anak ataupun menolong rumah tangga yang lain.

Bila seorang suami dapat berposisi di rumah berbarengan istrinya, hingga bukan saja karakternya hendak terus menjadi tokoh, secara psikologis, cinta istri kepada si suami pula hendak amat bertambah, sampai-sampai istri hendak merasakan ketentraman. Keluarga sakinah tidak terus menjadi dekat dalam pencapaian, smpai keluarga betul-betul menjadi tempat dimana iman dan taqwa terus tersuburkan.

Sumber: beritaonlineindonesia.com

Categories: Artikel

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).