Selalu miris ketika mendengar ada wanita yang mengganggu suami orang, dan kejadiannya banyak sekali, bahkan disekeling kita sudah marak dengan kasus yang demikian.

Bagi laki-laki, tidak ada godaan yang lebih besar daripada godaan wanita. Dalam status sosial dan ekonomi apapun, kehadiran wanita dalam kehidupan laki-laki akan selalu menarik perhatian. Bahkan tak jarang kehadiran tersebut membuat banyak laki-laki jatuh bangun dibuatnya. Meskipun demikian, hal tersebut tidak serta merta menjadikan semua wanita sebagai individu-individu penggoda. Mereka tetap mempunyai kontrol terhadap dirinya sendiri agar tetap disegani dan dihormati keberadaannya.

Sayangnya, masih banyak wanita yang acapkali mengabaikan kemuliaan martabat dan pentingnya arti sebuah kehormatan. Mereka dimanjakan oleh nafsu sehingga rela melakukan berbagai hal yang justru merusak nama baiknya sendiri. Salah satunya adalah wanita yang mau bersusah payah merebut suami orang.

Sampai sekarang saya masih suka bingung sendiri, kenapa ada wanita yang ngotot mau mendapatkan suami orang? Tak hanya itu, wanita perebut suami sepertinya juga mudah terbuai dengan bualan lelaki yang mengatakan bahwa ia akan menceraikan isterinya pada saatnya nanti.

Hal apakah yang bisa mendorong seorang wanita bisa berbuat demikian? Mungkinkah kemilau harta dan  kenikmatan hidup telah mendorong wanita-wanita perebut suami untuk melakukan apa saja agar sang lelaki jatuh ke dalam pangkuannya? Atau mungkin itu dikarenakan oleh rasa cinta?

Rasanya sulit untuk menerima alasan bahwa merebut suami orang adalah tindakan atas nama cinta yang dapat dimaklumi. Bagi saya, alasan tersebut nampak dibuat-buat dan sebuah pembenaran yang dipaksakan. Menggunakan cinta sebagai dalih untuk merebut suami orang adalah perbuatan menipu diri sendiri. Karena cinta tidaklah buta, dan cinta tak mungkin mendorong kita untuk berbuat kerusakan. Apalagi hingga menghancurkan rumah tangga orang lain.

Apabila ada wanita yang mengatasnamakan cinta untuk merebut suami orang, maka saya yakin cinta sesungguhnya bukanlah pada sang lelaki. Tapi pada apa-apa yang bisa diberikan lelaki tersebut sehingga sang wanita bisa terus memanjakan nafsu keduniaannya. Dengan begitu, cukup adil kiranya jika saya mengatakan bahwa wanita perebut suami sebenarnya adalah wanita-wanita pemalas. Malas mensyukuri, malas berusaha, malas mewujudkan harapan dengan cara yang benar. Rasa malas ini pada akhirnya menjadikan mereka individu-individu yang pesimis dan selalu ingin hidup dengan cara instan.

Yang anehnya lagi, wanita perebut suami suka dengan “polosnya” membuat anak. Seolah-olah anak hasil selingkuhan adalah stempel mujarab untuk membuat sang lelaki tak berdaya dan takluk pada kemauan sang wanita. Tapi tak sampai di situ saja. Jika dirasa perlu, merekapun tak sungkan untuk memainkan peran sebagai “korban” dan menggunakan anak hasil selingkuhan sebagai alat untuk mendapatkan belas kasihan. Alangkah menyedihkan jika kita memikirkan kehidupan anak-anak yang dihasilkan dari perselingkuhan. Kelak mereka akan hidup dalam dunia yang membingungkan, serba salah, dan tentunya memalukan.

Wanita perebut suami, tidakkah mereka berpikir bahwa segala upaya untuk bisa “memenangkan” suami yang tergoda hanya akan berujung pada rasa sakit? Jika seorang wanita berhasil merebut suami orang dan kemudian menikahinya, tidakkah ia berpikir bahwa suami barunya bisa meninggalkannya kapan saja dengan cara yang sama? Merebut suami orang kan menyakiti keluarga suami dan pada akhirnya akan menyakiti wanita perebut suami itu sendiri. Merebut suami orang bukanlah pilihan cerdas ataupun realistis.

Merebut suami orang adalah salah satu bentuk keserakahan akan kemilau harta dan kenikmatan duniawi. Sungguh sayang jika ada wanita yang rela merendahkan martabat dan kehormatannya sendiri demi mendapatkan sesuatu yang bukan haknya semenjak awal.

Categories: Artikel

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).