Aktualisasi Media Baru Terhadap Media Konvensional

Secara etimologi, aktualisasi berasal dari kata aktual yang dapat diartikan sebagai penampilan, penayangan bahkan penyataan. Aktualisasi dapat didefenisikan sebagai suatu hal yang menampilkan dan menyatakan sesuatu agar bisa disaksikan oleh semua orang, sehingga pengaktualan terhadap media baru akan menjadi sebuah koridor yang membentuk pola komunikasi yang baik terhadap khalayak. Melalui aktualisasi, new media senantiasa menyatakan diri sebagai media yang memiliki kekuatan tersendiri dalam diri khalayak yang menikmatinya. Aktualisasi juga membuat sebuah media itu memiliki ciri khas tersendiri agar rating yang membuatnya dikenal oleh khalayak semakin tinggi, bahkan aktualisasi dapat menjadikan media baru sebagai ciri khas yang tersendiri di mata khalayak.

Jika direlevansikan dengan teori media baru, aktualisasi merupakan puncak penerapan teori media baru, karena aktualisasi media baru ini membuat mata khalayak tertuju pada sebuah kesamaan persepsi yang dipaparkan oleh teori media lama. Media baru adalah sebuah media yang terbarukan dan media ini sangat masif pergerakannya, karena pengaruh dari kekuatan jaringan komunikasi yang baik sehingga media baru ini dapat disebut sebagai media yang akan menyaingi eksistensi media-media konvensional yang beredar sekarang ini. Karena media baru memiliki kekuatan yang sangat tajam untuk menyebar-luaskan informasi sehingga media konvensional membenahi konten yang ditayangkan sehingga media konvensional dituntut untuk bergerak cepat dalam merotasi setiap informasi yang disampaikan terhadap khalayak. Strategi media baru membuat insan media konvensional berbenah untuk menghadapi perkembang era digitalisasi ini. Dalam era millenial saat ini, ragam cara penyampaian pesan kepada khayalak sudah menunjukkan tren yang sangat tinggi. Media baru sangat banyak berbicara dalam kehidupan sosial sekarang ini, tren yang dihasilkan oleh media ini sangat beragam, sangat cepat dan mampu meyakinkan khalayak untuk mengonsumsi pesan yang diinformasikan oleh media baru.

Media baru berpotensi menghasilkan informasi yang membias, karena pergerakan informasi yang sangat luas dan masif berkembang ditengah-tengah khalayak. Dalam konteksnya media baru membuat bias karena informasi yang disampaikan kepada khalayak memiliki fungsi ganda dalam menelusuri informasi yang disajikan. Fungsi pertama adalah fungsi penyampaian informasi yang begitu luas, informasi yang luas sangat mempengaruhi khalayak untuk menuntun khalayak ke arah yang baik dan informasi yang disampaikan dapat mengarah ke koridor yang benar atau justru dapat berpotensi menyesatkan khalayak. Fungsi kedua yaitu penyampaikan pesan melalui informasi yang begitu luas, pesan melalui cara, etika, gaya komunikasi yang disampaikan kepada khalayak akan membuat pesan sangat menarik perhatian khalayak dan menjadi informasi yang komunikatif, dan pesan yang disampaikan begitu menarik perhatian khalayak. Sebaliknya media konvensional mampu menghasilkan informasi yang benar, karena proses yang dilalui sangat panjang sehingga filterisasi informasi dapat dilakukan.

Penulis membayangkan ketika media konvensional berada di puncak kejayaannya utamanya di era tahun 1980-2000an, para khalayak berbondong-bondong untuk menikmati konten media konvensional itu, seperti menonton televisi, mendengarkan radio, membaca koran harian, membaca majalah dan berbagai cara lain dalam menikmati media konvensional. Konteks sekarang, aktualisasi media itu dapat diaktualkan dalam cara yang disebut new media, Sehingga informasi dapat tersampaikan dengan cepat, benar dan tepat sasaran.

Penulis: Ben Azel Salu, S.I.Kom (Pegiat Sosial media, Warga Toraja)