Eksistensi New Media dalam Kehidupan Milenial

Berbicara mengenai new media, pemikiran khalayak tertuju pada platform digital karena melalui platform itu new media bisa diakses dengan seluas-luasnya. Dengan pola pikir khalayak khususnya kaum millenial berubah karena eksistensi new media. Mungkin dulunya peka terhadap dunia nyata sekarang menjadi mengabaikan dunia nyata oleh karena eksistensi new media yang membuat khalayak millenial memilih untuk gencar menggunakan new media melalui platform new media yang beredar sekarang ini. Mungkin pepatah “yang jauh mendekat, yang dekat menjauh” itu melekat pada kehidupan kaum millenial sekarang ini. Ini disebabkan gaya hidup khalayak, khususnya kaum millenial. Oleh karena new media yang membuat komunikasi antar pribadi, komunikasi massa dan komunikasi yang lain tergerus karena keeksistensian new media tersebut.

Dalan konteks sosial sekarang ini, new media terus menunjukkan keberadaannya sebagai media yang seakan melebihi kehidupan nyata saat ini. Apa penyebabnya? New media membuat tatanan sosial dalam masyarakat terutama kearifan lokal mulai menyusut, new media membuat pola pikir khalayak menjadi instan, new media membuat hidup yang dulunya peduli terhadap lingkungannya sekarang seakan-akan menjadi acuh tak acuh, dan penyebab lainnya yang berada di kehidupan sosial sekarang ini. Itu semua membuat beberapa khalayak, khususnya kaum millenial menjadi individualis, yang mementingkan diri sendiri daripada lingkungan sekitarnya. Ada juga khalayak yang masih memegang teguh tatanan kehidupan sosial meskipun berada di era millenial seperti sekarang ini serta ada juga yang terus berinovasi dan kreatif walau berada di era millenial.

Banyak perilaku yang membuat khalayak sekarang ini menyikapi new media tersebut, karena new media dianggap trendsetter terhadap nilai-nilai kehidupan sosial sekarang ini. Dengan perilaku sosial yang terjadi dalam era millenial saat ini membuat new media semakin gencar dan masif mempengaruhi khalayak, terutama khalayak usia millenial sehingga membuat pola pikirnya menjadi cerdas tetapi kecerdasannya itu tidak dipergunakan pada tempat yang semestinya. Oleh karena pengaruh new media yang membuatnya tidak repot untuk berkarya sehingga menghasilkan pemikiran yang tidak berfilosofis dan memiliki makna komunikasi yang baik. Hal itu yang membuat beberapa khalayak berpikir secara instan. Tetapi perlu diketahui dibalik keeksistensian new media, ada khalayak yang memanfaatkan new media sebagai ladang penghasilan karena khalayak melihat prospek bisnis yang terjadi dalam perputaran new media, ada juga khalayak yang memanfaatkannya sebagai media untuk menuangkan buah pemikirannya serta ada juga khalayak yang memanfaatkan new media sebagai karya yang dikenang sepanjang masa oleh semua khalayak.

Konteks ini juga terjadi di khalayak Toraja baik yang bermukim di Tana Toraja bahkan Toraja Utara, terutama kaum millenial Toraja. Melalui new media yang semakin masif pergerakkanya, ada beberapa khalayak di Toraja yang kurang memerhatikan tatanan kehidupan sosial yang berlaku dalam masyarakat Toraja dan seakan tidak peduli terhadap lingkungan sosialnya. Itu semua karena cara memanfaatkan new media yang tidak arif dan bijak, sehingga khalayak yang dimaksud itu menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Tetapi perlu disyukuri bahwa ada khalayak millenial Toraja yang memiliki kreativitas dan inovasi di bidang yang digelutinya sehingga melalui kreativitas dan inovasinya, nama besar Toraja dikenal di dunia yang dibidanginya dan menjadi kebanggaan bagi dirinya sendiri, keluarga, dan daerah Toraja bahkan nasional.

Penulis: Ben Azel Salu, S..Kom (Pegiat Sosial media, Warga Toraja