Namun sehari-hari saya membiasakan untuk selalu memeluk, mencium, mengapresiasi effort-nya, mendongeng sebelum tidur bahkan minta maaf kalau kebablasan, bernada tinggi dan bikin dia sedih.

Intinya saya mengajarkan anak merasa selalu kasihi dan diterima sebagai seorang pribadi, tapi juga ditraining unruk bisa mandiri dan meningkatkan kapasitasnya.

Dan dia paham yang di disiplinkan, tidak bisa ditolerir dan dimarahi adalah “tingkah lakunya” bukan “pribadi/orangnya”. Orangnya tetep disayang seluruh jiwa raga.

Saya pernah membaca satu buku. Penulis berkata sering kali orang tua banyak memanjakan anaknya. Gak tega lah, kasian lah, tapi kerasin anak saat remaja. Itu super kebalik.

Kerasin/tegasin waktu kecil, rangkul waktu remaja, jadilah orang yang bisa diajak diskusi, bukan hanya merintah dan marah-marah. Anak mana betah dirumah, ketika anak gak betah dirumah artinya kita membiarkan orang lain “memengaruhi dan menaruh nilai-nilai” dalam dirinya, yang mungkin bertentangan dengan diri kita.

Sumber masalah mengapa anak gak betah di rumah adalah pola asuh yang salah.

Sikap kasian dan gak tega HANYA MELEMAHKAN daya juang anak. Sementara sekarang adalah zaman serba instan, praktis dan hampir gak pake effort. Dengan kecanggihan teknologi bagaimana caranya untuk anak tetap terlatih dengan proses. kalau bukan kita dirumah yang melakukannya siapa lagi?

Lebih baik susah untuk 12 tahun awal hidupnya dibanding anak tumbuh tidak punya daya juang dan ujung-ujungnya gak bisa mandiri seumur hidupnya.

Categories: Artikel

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).