Komunikasi massa adalah proses dalam tubuh organisasi media untuk membuat dan menyebarluaskan pesan kepada khayalak. Organisasi media akan menyebar-luaskan pesan-pesan yang mempengaruhi dan mencerminkan kebudayaan suatu masyarakat dan informasi tersebut akan hadir di tengah khalayak yang beragam. Hal ini membuat media sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat. Dalam komunikasi massa, media massa menjadi otoritas tunggal yang menyeleksi pesan, memproduksi pesan dan menyampaikan pesan kepada khalayak. Ciri-ciri dari komunikasi massa adalah: (1) Komunikan dan Komunikasi Massa melembaga, (2) Komunikan dalam Komunikasi Massa heterogen, (3) Pesannya bersifat umum, (4} Komunikasi yang terjadi hanya satu arah, (5) Komunikasi Massa menimbulkan keserempakan, (6) Komunikasi Massa mengandalkan teknis/ infrastruktur. Keenam ciri komunikasi massa ini adalah komponen pembentuk media lama sebagai media massa.

Komunikasi massa dalam menjalankan fungsi dalam membentuk kekuatan media lama adalah suatu dinamika fungsi terhadap pembentukan organisasi media. Komunikasi massa sebagai jalan untuk menjembatani insan media terhadap khayalak, karena hanya komunikasi massa yang membuat khalayak menerima pesan yang disampaikan oleh media. Pesan-pesan yang disampaikan oleh media melalui komunikasi massa akan membuat khalayak memahami dan menjadikan media sebagai referensi untuk menjalani hidup sosialnya. Beragam pesan-pesan yang disampaikan oleh media massa akan membentuk sebuah pengetahuan. Menurut De Felur dan Denis, ada tujuh fungsi yang dibentuk oleh komunikasi massa: (1) Komunikator, (2) Pesan, (3) Media, (4} Komunikan, (5) Gate Keeper, (6) Gangguan (noise). (7) Umpan balik/ feedback. Tujuh fungsi ini adalah fungsi dalam meramu dan membentuk pola komunikasi massa, karena dengan ketujuh fungsi ini, pesan yang disampaikan media akan tersampaikan secara efektif. Komunikasi massa juga memiliki efek, dalam teori komunikasi massa ada tiga efek komunikasi massa : (1) Efek Individu, (2) Efek Masyarakat, (3) Efek Kebudayaan. Ketiga efek inilah yang akan membuat pesan yang ditransfer dalam jaring komunikasi massa akan berjalan dengan baik, sehingga transfer pesan akan terjalin secara sinkron dan khayalak akan mengetahui pesan yang disampaikan oleh media massa itu.

Jika dikorelasikan dengan teori komunikasi massa, media massa terutama media lama akan semakin kuat dalam menyampaikan pesan kepada khalayak. Mungkin secara infastruktur media lama tidak banyak memiliki kekuatan, tetapi pesan yang dihasilkan bisa tersampaikan dengan baik, mengapa? Karena kepercayaan khalayak masih tin8gi terhadap media massa yang berbasis konvensional (baca: Media lama), dengan kepercayaan yang membentuk khalayak dan membuat media lama ini sangat kuat dibanding dengan media yang terbaharukan. Eksistensi media lama sekarang ini tidak hanya merambah di dunia konvensional saja, tetapi eksistensi media ini merambah ke dunia teknologi yang terbarukan. Itu adalah contoh kecil dari strategi dalam menghidupkan media massa berbasis konvensional atau media lama, sehingga media lama tetap hadir ditengah-tengah khayalak meski dilakukan konvergensi media dari konvensional menjadi digital. Konvergensi media tidak akan menghilangkan esensi yang telah dipahami oleh khalayak, justru konvergensi media yang menguatkan media lama karena media lama tidak hanya dibaca, ditayangka, didengar di seluruh media konvensional melainkan dibaca, ditayangkan, didengar di seluruh media digital, dan menjadi sebuah kekuatan yang khas dalam media lama.

Penulis: Ben Azel Salu, S.I.Kom (Pemerhati penyiaran, warga Toraja)

Categories: Opini

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).