Begitu pintar kah anak-anak jaman ini? Atau, jangan-jangan indikator penilaian yang berubah/menurun?

Bagaimana sekolah/universitas mempertanggung jawabkan nilai rata-rata 100 atau IPK 4.0 kepada siswa/mahasiswa yang justru kesulitan di tempat kerja dan terlihat bodoh ditengah masyarakat?

Saya sering iseng bertanya kepada siswa atau mahasiswa tentang matakuliah yang dia pelajari satu semester sebelumnya. Rata-rata mereka sudah lupa, bahkan seakan tak pernah mempelajarinya.

Apakah para orangtua harus merasa bangga atau justru bingung melihat anaknya yang hanya bermain game di rumah tapi Rapornya selalu rata-rata 100?

Apakah orangtua harus bangga dengan anaknya yang mendapatkan IPK 4.0 saat lulus sarjana, padahal setiap malam ia hanya nongkrong di lapo tuak atau cafe?

Betapa mulianya sistem pendidikan kita saat ini. Anggapan bahwa “sesungguhnya tidak ada orang bodoh” benar-benar terbukti.

Tentu apabila tolok ukurnya adalah nilai rapor atau IPK peserta didik.

Saya “sangat kagum” dengan sistem pendidikan kita saat ini.

Penulis: Lusius Sinurat

Categories: ArtikelOpini

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).