Pandemi Covid-19 menyentak kehidupan sosial sekarang ini, karena dampak yang ditimbulkan oleh virus yang berasal dari kota Wuhan, Tiongkok itu. Covid-19 mempengaruhi kehidupan sekarang ini baik dari sisi kesehatan, interaksi sosial bahkan ekonomi, itu dikarenakan protokol kesehatan yang mengharuskan masyarakat untuk selalu patuh terhadap aturan mengenai pencegahan dan pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19 ini. Gaungan pemerintah “Stay at Home” merupakan seruan untuk senantiasa berada di rumah demi mencegah penularan virus corona, sehingga masyarakat patuh dan taat pada anjuran pemerintah yang mungkin membuat para masyarakat khususnya insan produktif yang setiap hari mencari sesuap nasi untuk menghidupi keluarga terpaksa kehilangan mata pencaharian di masa pandemi Covid-19, itu dikarenakan pertemuan dalam kerja berpotensi menimbulkan penularan virus corona. Hal senada juga dirasakan oleh insan pendidikan, sekolah dan kampus ditutup sementara karena melalui perhimpunan atau tatap muka dalam pembelajaran akan berpotensi menimbulkan penularan Covid-19 bahkan hal ini juga dirasakan insan-insan lainnya.

Seluruh masyarakat resah, gelisah dan kuatir karena kemasifan penyebaran mata rantai virus corona ini. Dalam masa pandemi di Indonesia yang dimulai bulan Maret, masyarakat berbondong-bondong mencari alat pelindung diri untuk melindungi dirinya dari virus yang membahayakan tersebut. Memasuki minggu ketiga bulan Maret, semua aktivitas sosial dihentikan termasuk perkantoran, aktivitas ibadah di rumah-rumah ibadah, serta aktivitas perekonomian dibatasi karena melalui giat tersebut akan berpotensi menimbulkan penularan virus corona. Gaya hidup baru mulai diterapkan seperti mencuci tangan dengan sabun dan handsanitizer, menjaga jarak minimal 1-2 meter, menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, bahkan berbagai daya & upaya pencegahan demi memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Di Toraja sendiri, pencegahan virus corona dilakukan secara masif dan intens, pemerintah daerah turun tangan bersama masyarakat Toraja bahu membahu demi memutus mata rantai penyebaran virus corona. Satu yang patut disyukuri masyarakat Toraja bahwa penularan covid-19 tidak menunjukkan grafik yang sangat tinggi seperti di daerah-daerah yang dikategorikan zona merah. Dalam dua bulan terakhir, enam kasus positif yang terjadi di Tana Toraja dan satu kasus positif di Toraja Utara boleh tertangani dengan baik di Rumah Sakit rujukan yang berada di Toraja maupun yang diarahkan ke Makassar bagi pasien dengan klasifikasi Orang Tanpa Gejala (OTG) sesuai arahan dari Bapak Gubernur Sulawesi Selatan, sehingga Toraja dapat dikategorikan sebagai daerah yang aman dari penularan Covid-19.

“New Normal” adalah suatu tatanan hidup baru dalam mengiringi kehidupan sosial dalam pandemi Covid-19, pemerintah menggaungkannya di akhir bulan Mei. Adaptasi kehidupan ini akan dirasakan oleh masyarakat Toraja. Pemerintah mulai menyiapkan konsep new normal yang akan diterapkan di Toraja, dengan diawali oleh revitalisasi rumah ibadah yang beberapa bulan ini dipindahkan ke rumah-rumah, roda perekonomian mulai digalakkan kembali serta revitalisasi sarana pendidikan yang akan direncanakan di Bulan Juli. Konsisten menerapkan protokol kesehatan merupakan hal yang mutlak dalam kehidupan new normal. Kerinduan masyarakat Toraja sangat tinggi terhadap era new normal dan pemerintah terus berusaha dengan daya dan upaya untuk mewujudkan new normal yang diterapkan di Toraja. Semoga!

Penulis: Ben Azel Salu (Mahasiswa Pascasarjana IAKN Toraja)

Categories: Opini

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).