Saat ini selain wabah coronavirus ada juga “wabah”  emosi  yang menghujat guru.  Seorang Ibu muda berinisial IM diduga menuliskan dalam FBnya “Anak Sekolah Libur Panjang Enak Donk Pada Guru Gajih Buta” Tulisan ini sangat melukai perasaan para guru Indonesia.

Guru tak henti-hentinya “disoal”. Disoal  mulai dari membuat anak stress karena memberikan tugas terlalu berat pada anak didik. Gonjang ganjing antara masuk sekolah dan tidak. Bahkan sejumlah guru tak mendapatkan gaji, buta gaji! Bukan gaji buta!

Benarkah guru makan gaji buta?

Dilansir dari ruangguru.my.id: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah mengeluarkan Pedoman Pelaksanaan Belajar Dari Rumah Selama Darurat Bencana Covid-19 Di Indonesia. Pedoman ini didasarkan pada Surat Edaran Setjen Nomor 15 Tahun 2020.

Pedoman ini mengupas seluk beluk kegiatan layanan pendidikan yang ideal untuk setiap pelaku pendidikan di Indonesia. Termasuk, menjelaskan juga tugas-tugas guru selama masa pandemi. Apa saja tugasnya

Kemendikbud sendiri membagi tugas guru ke dalam dua skenario. Pertama, tugas guru jika pembelajaran dilakukan secara daring (dalam jaringan/online), dan tugas guru jika pembelajaran dilakukan secara luring (luar jaringan/offline)

Dalam skenario daring, tugas guru adalah sebagai berikut:

Pertama, membuat skenario untuk berkomunikasi dengan orangtua/wali dan peserta didik.

Bagi guru yang terbiasa dengan penggunaan gadget, tugas ini mungkin mudah saja. Tapi bagi guru yang gaptek, ini adalah pekerjaan yang butuh perjuangan dan tak bisa dianggap sepele.

Kedua, membuat RPP yamg sesuai minat dan kondisi anak

Ini juga sebetulnya bukan tugas yang sederhana. Memahami minat dan kondisi anak membutuhkan pendekatan dan upaya memahami anak didik dengan memerhatikan kondisi kekinian. Apalagi bagi guru-guru dengan usia yang memiliki jarak cukup jauh dengan anak didiknya yang beda zaman.

Ketiga, menghubungi orangtua untuk mendiskusikan rencana pembelajaran yang inklusif sesuai kondisi anak

Tugas ini mungkin mudah saja dilakukan guru. Namun, dalam sudut pandang orangtua, tentu orangtua beragam. Tak semua orangtua aware dan bisa diajak diskusi. Sebagian mungkin cuek dan kurang berminat membuka ruang diskusi. Ini juga membutuhkan pendekatan yang tak sederhana.

Keempat, guru memastikan proses pembelajaran berjalan dengan lancar

Bagaimana caranya? Caranya dengan memastikan persiapan untuk peserta didik, melakukan refleksi dengan peserta didik, menjelaskan materi yang akan diajarkan, serta memafasilitasi tanya jawab dengan siswa.

Kelima, guru mesti berkordinasi dengan orangtua/wali untuk penugasan belajar

Bagi siswa yang belum dibekali gadget, guru otomotis harus mengirim tugasnya via orangtua. Orangtua tentu saja berbeda-beda dalam menanggapi tugas yang diberikan guru. Ada yang menerima dan koperatif, ada juga yang merasa risih dan menuntut guru untuk memberikan pemahaman yang baik agar urusan beres. Dalam pembelajaran normal, tugas ini malah tak ada.

Keenam, mengumpulkan dan merekap tugas yang dikirim peserta didik dalam waktu yang telah disepakati

Ini sebetulnya tugas yang biasa dilakukan dalam kondisi normal. Artinya, aktivitas merekap dan berkutat dengan administrasi seperti ini juga tetap menjadi tugas guru dii masa pandemi.

Ketujuh, muatan penugasan adalah pendidikan kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemi covid-19. Selain itu perlu dipastikan adanya konten rekreasional

Tugas ini juga tak mudah, karena menuntut guru lebih melek literasi. Guru tak bisa memberikan tugas yang normatif sesuai buku teks, akan tetapi guru juga harus berfikir lebih jauh tentang hal-hal yang relevan dengan kehidupan anak, termasuk selama masa pandemi.

Poin rekreasional juga sebetulnya bukan pekerjaan sederhana.

Sampai sini, masih berfikir dimasa pandemi ini guru otomatis menganggur?

Imas Masrikah (IM) __bila Ia yang menuliskan __ salah dalam memahami guru.  Justru yang ada adalah derita guru tak mendapatkan gaji. Ratusan ribu guru buta gaji. Buta gaji yang dimaksud adalah adanya sejumlah guru yang gajinya tertunda. Ada yang mendapatkan gaji per triwulan.

Bisa dibayangkan nasib guru buta gaji. Dalam ajaran agama diwajibkan kita membayar pegawai sebelum keringatnya kering.  Bahkan sebaiknya dibayar sesuai keringatnya. Seorang guru  sarjana honorer  di negeri ini ada yang masih digaji Rp 300 ribu per bulan.

Bisa dibayangkan di saat wabah coronavirus guru honorer hanya mendapatkan gaji per tiga bulan. Terus setiap bulan mau makan batu? Tentu tidak!  Tidak semua guru bisa mendapatkan gaji tiap bulan. Ada sejumlah guru mengadu pada Saya karena Ia “buta gaji”.

Berikut  diantara ungkapan sejumlah guru kategori  buta gaji,  “Kang Dudung, sudah mah gaji kami di bawah UMR/UMK/UMP, sering gaji datang terlambat, baik dari provinsi  maupun sekolah. Kami “dilockdown” tidak hanya fisik Kang, gaji juga dilockdown”. Mendapatkan tulisan ini, sembab mata Saya.

Bahkan pada tiga tahun yang lalu Saya bertemu dengan seorang guru dengan gaji dibawah Rp. 200 ribu. Ia hidup dengan jualan asongan pasca mengajar. Ia mencintai profesi guru karena senang belajar dan memberikan pembelajaran pada anak didiknya.

Guru yang buta gaji banyak yang jadi GTO (Guru Tukang Ojek). Ada juga yang menjadi GTR  (Guru Tukang Rongsok). Ada juga GSA (Guru Sopir Angkot), selain GTA (Guru Tukang Asongan). Plus sejumlah guru lainnya yang nyambi dalam pekerjaan lainnya.

Guru ASN memang lebih beruntung karena mereka mendapatkan gaji yang normal, itu pun kalau sudah dapat TPG (Tunjangan Profesi Guru). Bila guru hanya dapat gaji normal ASN tanpa TPG, sungguh kasihan!

Bisa dibayangkan seorang guru ASN saja dengan gaji hanya Rp. 3 jutaan harus menghidupi keluarga. Baju memang terlihat rapih, penampilan sopan dan agak gagah, tapi dompetnya kosong. Ini derita guru ASN. Apalagi guru honorer.

Di negeri lain gaji guru ada yang puluhan juta per bulan. Di negeri ini gaji guru paling senior saja  __kerja melintasi 30 tahun__  belum tentu  bisa mendapatkan gaji Rp. 10 juta  per bulan.  Jadi bila mayoritas guru bermasalah secara kompetensi agak wajar. Mengapa? Urusan perut dan keselamatan keluarga guru masih jauh dari sejahtera.

Tidak ada guru yang kaya! Mayoritas guru menggadaikan SK di bank, terutama bank BJB. Makanya bila saat coronavirus guru lockdowan,  wajar bila bank BJB memberikan “solusi” dalam bentuk stop cicilan dua bulan!  Mengapa tidak! Ayo bank BJB. Eh kok jadi ke BJB lagi yah?

Kembali ke soal guru buta gaji dan gaji buta.  Faktanya mayoritas guru buta gaji, tidak pernah mendapatkan gajinya secara utuh. Buta gaji, tidak melihat gajinya secara utuh. Banyak potongan, cicilan dan hal lainnya. Mengapa? Bukan karena kurang tasyakur, melainkan memang gaji guru di negeri kita kecil.

Tak heran banyak anak tak mau jadi guru. Buta gajinya! Tulisan ini bukan pembelaan namun gambaran kehidupan sejumlah guru faktanya “Buta Gaji”. Selain gajinya buta bagi para guru honorer. Plus sejumlah guru ASN pun, “Buta Gaji” tak pernah melihat struk gajinya utuh. Bahkan ada yang minus!

Sumber: Dudung Nurullah Koswara, ruangguru.my.id

Categories: Artikel

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).