Strategi Media Lama dalam Menyikapi Era Digitalisasi

Berbicara soal media lama, tentu pemikiran khalayak tertuju pada media-media konvensional seperti: televisi, radio, majalah, koran, dan lain sebagainya. Media lama ini sudah membumi di kalangan khalayak, karena eksistensinya yang dikenal sejak dahulu sampai sekarang ini. Banyak khalayak yang berasumsi bahwa media lama ini sudah kuno, tidak layak, tidak keren dan berbagai asumsi lainnya yang ada di benak khalayak, terutama khalayak millenial. Salah satu penyebabnya ialah kurangnya perhatian kaum millenial terhadap media lama sehingga khalayak millenial seakan meninggalkan tren dari media lama yang sudah mendarah-daging di kehidupan sosialnya. Penyebab lainnya juga yaitu hadirnya new media (baca: media baru) yang semakin hari kian menunjukkan kemasifannya dalam melakukan komunikasi terhadap khalayak. Dengan akselerasi yang dihasilkan media baru itu, membuat media lama seakan tersisih dari keberadaanya ditengah-tengah khalayak sekarang ini.

Media lama (Inggris: old Media) menjadi salah satu tonggak sejarah kehidupan sosial khayalak, itu diawali saat Indonesia merdeka pada tahun 1945. Para pemuda saat itu dengan semangat juang yang tinggi dan kegigihannya membuat Proklamasi disiarkan ke seluruh penjuru negeri karena peran penuda dan media lama yang ada saat itu. Melalui media lama, kronologi/peristiwa diberitakan apa adanya karena insan media memiliki keterbatasan oleh karena infrastruktur media pada saatitu masih sangat terbatas. Memasuki orde baru, media lama semakin dikungkung kebebasannya oleh karena kepemimpinan otoriter yang diterapkan Presiden saat itu. Media lama hanya memuat konten yang berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga media lama memuat konten yang monoton, tidak inovatif dan kurang kreativitas. Kejayaan dari media lama diawali pada era tahun 1980-an yang diawali oleh pendirian stasiun Radio dan Televisi Swasta yang sampai sekarang ini terkenal karena konten-konten yang ditayangkan sedikit mengalami inovasi, bahkan Koran-koran dan majalah sudah memuat konten yang berimbang dan inovatif dan kreativitas serta tetap memperhatikan aturan yang berlaku pada saat itu.

Di era sekarang ini, media lama yang tayang dan terbit sekarang ini mulai tersisih eksistensinya oleh karena pergerakan media baru yang mulai diminati oleh khalayak, terutama kaum millenial. Karena media lama dianggap sudah kuno, tidak tren, tidak memiliki eksistensi lagi dan berbagai macam asumsi lainnya. Disini dibutuhkan peran dan strategi insan media untuk terus menghidupkan media yang dikelolanya. Strategi yang dimaksud ialah menyiapkan infrastruktur media yang berbasis digital, mengelola channel digital, membaharui platform digital yang ada sehingga memiliki teknologi yang terbaharukan, menambah konten yang diupload ke media digital bahkan memperlengkapi insan media dengan pola pikir berbasis digitalisasi, sehingga media lama tidak ketinggalan zaman serta membuat khalayak millenial tertarik karena konten yang dimuat. Hal itu adalah strategi yang menurut penulis telah memenuhi standar dalam mengelola media lama saat ini. Dengan strategi tersebut, insan media lebih giat dalam mengisi platform media yang dikelolanya dan khalayak lebih tertarik untuk menjadikan media lama sebagai referensi dalam tatanan hidup sosialnya, sehingga kolaborasi antara insan media dan khalayak terjalin dengan baik dan menguntungkan diantara kedua pihak dalam menyikapi keberadaan media lama sebagai media yang terus bertumbuh dan konsisten di era digital ini.

Penulis: Ben Azel Salu, S.1.Kom (Pemerhati penyiaran, Warga Toraja)