Seorang bos pemilik bank yang kaya raya, suatu kali diajak oleh temannya ke panti asuhan. Namun setelah acara selesai, hati sang bankir bergumam:

“kamu bohong, katanya kalau aku main ke sini, hati pasti bahagia”

Dengan langkah lesu, ia pun kembali ke mobilnya, tetapi tiba-tiba ada seorang anak perempuan kecil menghampirinya: “om mau pulang ya, om boleh tidak ana minta sesuatu?”

Sang bankir tersenyum, ia seorang kaya, apa yang tidak bisa dibelinya, apalagi hanya untuk anak kecil ini.

“memangnya kamu mau minta apa?”

“om, Ana pengen manggil ayah ke om. Boleh kan?”

Sang bankir kaget, tenggorokannya terasa tersumbat, ternyata bukan boneka atau uang yang diminta, hanya sebutan ayah.

Tanpa terasa hatinya luluh dan dengan suara bergetar: “boleh, Ana boleh panggil ayah ke om”

“Terima kasih ayah, kapan ayah datang lagi? Ana boleh minta satu lagi ke ayah?”

“Nanti ayah atur waktu lagi. Boleh ana mau minta apa?”

“Ana minta, kalo ayah datang lagi ke sini, bawa foto ayah ya, Ana mau simpan di kamar jadi kalau ana kangen sama ayah, Ana bisa lihat foto ayah”

Dengan berlinang air mata, bankir itupun segera memeluk Ana. “Besok ayah datang lagi bawa foto dan ayah akan sering ke sini untuk ketemu Ana” hati sang bankir sangat bahagia.

Refleksi :

Ternyata bahagia itu bukan saat kita memiliki segalanya, melainkan saat kita bisa mengasihi/memberi apa yang kita miliki untuk orang lain meski itu hanya sebuah ungkapan kasih.

Kelebihan bukan digunakan untuk menyakiti orang lain karena kekayaan hanya bersifat sementara, kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang.

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu (Kolose 3 : 23).

Categories: Kristen

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).