Jika berbicara tentang penyiaran, tentu paradigma berpikir khalayak tertuju pada dua media konvensional yaitu Televisi dan Radio. Kedua media ini sudah mendarah-daging dalam kehidupan sosial khalayak, karena kedua media ini merupakan media yang sangat akrab ditengah-tengah khalayak, kedua media ini sangat mudah ditemui dirumah-rumah khalayak serta kedua media ini dapat dijangkau oleh khalayak luas. Salah satu dari kedua media ini adalah televisi, defenisi tentang kata televisi mungkin sudah diketahui oleh khalayak luas, itu karena media yang satu ini telah berkembang luas ditengah khalayak, sehingga pemahaman mengenai media televisi itu sangat familiar di semua kalangan. Hadirnya televisi sebagai media yang begitu representatif membuat khalayak berbondong-bondong untuk menyaksikan tayangan yang ditampilkan oleh perangkat televisi.

Kehadiran media televisi di Indonesia telah menjadi sebuah tonggak sejarah perjalanan media- media saat ini. Perjalanan sejarah penyiaran Televisi di Indonesia dimulai saat pelaksanaan event olahraga terbesar seantero benua Asia yaitu Asian Games ke IV di Jakarta. Televisi Republik Indonesia (TVRI), sebuah perusahan jawatan yang didirikan oleh negara yang diberi kepercayaan untuk menjadi Officiał Broadcaster pelaksanaan perhelatan olahraga terbesar di Asia itu. Setelah perhelatan olahraga tersebut, geliat penyiaran televisi di Indonesia mulai menunjukkan tajinya meski hanya satu perusahaan Televisi yang mengudara yaitu Televisi Republik Indonesia (TVRI) dengan sistem hitam putih. Memasuki era tahun 1990-an merupakan masa-masa kejayaan penyiaran Televisi, hadirnya Televisi Swasta yang didirikan oleh konglomerat Indonesia membuat khasanah pertelevisian menjadi padu dan harmoni, karena konten-konten tayangannya begitu variatif dan sistem yang digunakan adalah sistem berwarna. Sehingga khalayak tertarik pada tayangan yang disajikan melalui media Televisi ini.

Era reformasi merupakan era puncak kejayaan dunia pertelevisian Indonesia, hadirnya beberapa stasiun TV swasta membuat persaingan antar media terjadi, sehingga insan penyiaran saling klaim bahwa tayangan yang disa an itu membuat khalayak percaya terhadap media televisi itu sehingga persaingan antar TV swasta semakin tak terbendung lagi, karena ingin mengejar rating atau jumlah penonton yang menyaksikan sebuah tayangan di televisi dan tidak memerhatikan kesehatan siaran yang ditayangkannya. Penulis berasumsi melalui keadaan tersebut maka pemerintah membuat sebuah undang-undang yang mengatur mengenai regulasi penyiaran terutama penyiaran yang dilakukan oleh media Televisi. Pembuatan Undang-undang No. 32 tahun 2002 merupakan salah satu solusi untuk menyelamatkan penyiaran televisi dari persaingan yang tidak sehat karena media televisi pada saat itu hanya mengejar rating atau jumlah penonton.

Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) merupakan produk hukum yang diturunkan setelah Undang-Undang No. 32 tahun 2002 sebagai impilementasi dalam melakukan siaran yang sehat terutama media Televisi. P3SPS mengatur mengenai pengawasan konten siaran, manajemen penyiaran TV, klasifikasi tayangan yang disajikan oleh Tv, serta regulasi terhadap kegiatan jurnalistik dalam mengelola media TV. Beberapa hal yang penulis kemukakan merupakan garis besar dalam Pedoman penyiaran atau P3SPS tersebut. Siaran sehat tidak hanya menjadi tanggungjawab KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), melainkan tanggungjawab semua elemen bangsa untuk terus mengimpementasi siaran sehat yang adalah ciri khas bangsa Indonesia.

Penulis: Ben Azel Salu, S.l.Kom (Pemerhati penyiaran, Warga Toraja)

Categories: Opini

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).