Istrimu Tidak Minta Lelahnya Digaji Uang, Istrimu Hanya Minta Lelahnya Dihargai

Kadang kala, suami lakukan 1000 kesalahan istri bertahan. Istri lakukan 1 kesalahan suami pergi.

Tahukah kamu wahai suami?

Nafkah yang engkau beri hanya cukup untuk makan. Bukan kami para istri tidak mensyukurinya, tapi cobalah untuk lebih mengerti.

Kami tidak menghamburkan uang untuk kepentingan pribadi. Bedak, lipstik, tas, baju tidaklah lebih penting dari pada tangisan anak yang minta jajan, beras dan untuk kebutuhan belanja sehari-hari.

Wahai suami.

Pekerjaanku 24 jam, tidurku tak pernah nyenyak seperti aku belum melahirkan anak-anakmu. Bukan, bukan aku tidak ikhlas menjalankanya. Cukuplah tidak menggerutu dan bermuka masam apalagi memarahiku, membentakku.

Ketika aku sakit, bisakah engkau sejenak merawat anak kita agar aku bisa beristirahat? Tidak, kau hanya bisa mengajaknya bermain sebentar karna anak kita terus mencari ibunya. Engkau alasan “gak mau sama aku, nyari bunda terus”.

Ketika engkau sakit, istri merawatmu dengan segenap jiwa raganya, masih sambil mengurus anak-anakmu.

Mengertilah, engkau menjadi suami ataukah lajang. Kau tetap bekerja 8 jam atau lebih sedikit sehari. Tapi kami para istri setelah menikah bekerja 24 jam tanpa bayaran demi menjaga anak-anakmu, mengurus keperluanmu.

Uang belanja yang kau berikan bukan gaji lelahku, bukan uang untuk istrimu pergi ke salon, SPA membenarkan otot otot yang lelah.

Uang yang kau beri itu untuk keperluan sekeluarga. Untuk kita makan sekeluarga, itu saja belum ada biaya sekolah. Hanya untuk kebutuhan sehari-hari, belom termasuk biaya kalo anak-anak kita sakit, dll.

Jangan pernah kau ungkit uang belanja yang kau berikan pada istrimu. Sekali kau bilang kemana uang belanja selama ini, seketika itu jiwa raganya seperti tersambar petir.

Wahai suami, istrimu tidak minta dimanja atau lelahnya digaji uang. Istrimu hanya meminta lelahnya dihargai.

Semoga laki-laki menghargai pengorbanan seorang istri.