Pacaran adalah masa “pengenalan”. Mengenal prinsip hidupnya, responnya dalam kehidupan, tujuan hidupnya, pergaulannya, karakternya dan keluarganya. Setelah, mengenal lalu memutuskan apakah lanjut atau tidak ke pernikahan.

Lebih baik “terlambat menikah” daripada menikah dengan orang yang “salah”. Pernikahan itu sekali untuk selama-lamanya, kecuali “maut” memisahkannya.

Jadi begitu menikah dengan orang salah, habislah! Untuk itu, sejak dari “pacaran” kalau kamu udah tahu “sifatnya” buruk, jangan pernah bawa ke pernikahan.

Saya agak kesal, lihat orang-orang yang berpacaran, sudah tahu pacarnya kasar, memaki, cuek, bahkan selingkuh sana-sini namun tetap “nempel” disitu.

Begitu sudah nikah ngomong: “pengen pisah, gak tahan batin (tersiksa), dan lain-lain”. Selalu nanya, Pak gimana kalau suami atau isteriku kasar? Selingkuh? Apakah harus bertahan?

Nah! Inilah yang buat saya kesal, pas pacaran pemikiranmu dimana? Dibutakan? Disesatkan? Atau kamu yang malah ngotot gak mau pisah? Alasan masih cintalah, sayanglah udah bertahun-tahun pacaran, inilah itulah!

Dengarkan! Seburuk apapun suamimu, isterimu kelak! Tidak bisa cerai dengan alasan apapun. Jadi sebaiknya pas pacaran, tegaslahterhadap dirimu. Dia yang tidak jelas, karakter buruk, pembohong, tinggalkan!

Semoga ini, dapat membantu kita untuk berpikir sangat matang sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah.

Kamu layak mendapatkan yang terbaik.

PS. Jonathan Manullang

Categories: Artikel

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).