Lebih mudah menemukan kesalahan kecil orang lain daripada menyadari kesalahan besar dari diri sendiri.

Ilustrasi

Seusai kebaktian, dua pemuda berjalan sambil bercakap-cakap. “Keterlaluan sekali Bapak yang duduk di depan kita tadi! Sudah tidur, dengkurannya keras lagi.” Pemuda pertama mengomel.

Tak mau kalah, pemuda kedua juga ikut mengomel, “Bapak tadi memang keterlaluan, dengkurannya membuat saya terbangun.”

Refleksi

Melihat kelemahan orang lain memang mudah, tetapi tak mudah menyadari kesalahan sendiri. Banyak orang juga mengomel dan mengeluhkan kelemahan orang lain atau mencela mereka yang berbuat salah. Tanpa disadari mereka juga bisa melakukan kesalahan yang sama.

Mari kita belajar untuk berhenti menghakimi dan mencari-cari kesalahan orang lain, sebab jika hal ini terus kita lakukan, kita tidak akan pernah memiliki waktu untuk menilai diri sendiri.

Itu bisa menjadikan kita munafik. Hal ini kelihatannya sepele, tetapi kalau tidak cepat diatasi, tanpa sadar kita membangun tembok kesombongan yang tinggi. Kita akan selalu merasa paling benar, paling suci, paling rohani.

Daripada kita mencari-cari kesalahan orang lain yang dapat dikritik dan dihakimi, lebih baik kita melihat keberadaan diri sendiri di hadapan Allah. Kita harus belajar menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada manusia yang tak pernah berbuat salah.

Kalau kita mau jujur, bukankah kita juga pernah salah? Kalau kita sendiri kadang juga berbuat salah, mengapa kita sibuk mencari-cari kesalahan orang lain?

Jangan terlalu cepat menilai dan menghakimi orang hanya dari luarnya saja, karena apa yang dilihat mata kita itu belum tentu kenyataannya.

Sesuatu kebaikan, tidak semua berawal dari muka yang senyum, tapi ada juga yang menekan demi kebaikan diri kita.

Referensi: Sahabat Doa

Categories: Artikel

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).