Beberapa saat lalu saat memajang Instatory tentang kekerasan seksual, saya mendapat cukup banyak feed back dari pembaca. Sebagian besar dari mereka menceritakan pengalamannya dengan pasangan (nikah dan tidak nikah) yang melakukan kekerasan dalam hubungan tersebut.

Penyebab kekerasan tersebut biasanya sepele, adu mulut karena perbedaan pandangan terhadap sesuatu, becanda yang jadi parah, keinginan yang tidak dituruti, hingga putusan. Iya, ada yang begitu putusan terus dikasarin gitu sama pacarnya.

Rentang usia yang mendapat kekerasan ini mulai dari usia remaja hingga usia dewasa. Duh, masih dedek emes saja sudah berani kasar sama perempuan, gedenya jadi apa?

Ya Allaah, Mak… elus dada saya sama kondisi mereka.

Ada yang bilang begini, “Kak, aku sayang sama dia. Dia itu romantis banget. Sudah gitu, dia memenuhi semua harapan dan keinginan aku dan orangtua aku. Cuman dia orangnya kasar. Kalau keinginannya nggak diturutin, dia bisa marah-marah dan ngomong kasar. Aku pengin kaya Glacie yang dapat cowok yang sayang sama dia. Aku capek diginiin terus.”

Kadang saya itu bingung sendiri sama dedek-dedek ini. Baru pacaran kok yo bisa gitu pasrah sama cowoknya diapain aja. Kok yo nggak mikir kalau di luar sana ada banyak banget cowok sebenarnya. Nggak dapet di Indonesia, masih ad abuanyak negara di muka bumi ini. Lha kok pasrah sama cowok yang nggak jelas kelakuannya?

Dek, bersama dengan orang yang kamu cintai itu memang rasanya indah sekali. Tapi terus kalau cintanya cuma di kamu saja, terus suatu saat kamu dibuang sama dia kalau sudah nggak ada bentuknya terus gimana?

Kalau memang hubungan itu bikin kamu nangis, coba koreksi lagi. Kamu cinta sama orang apa bawang?

Kalau memang hubungan itu bikin kamu capek, coba koreksi kamu itu cinta apa narik becak?
Kalau hubungan itu bikin kamu babak belur, coba koreksi kamu itu cinta apa tawuran?

Saya tahu orang bilang cinta itu buta. Tapi, saya rasa cinta nggak bikin orang mati rasa.

Sayang, kalau kamu merasa pasanganmu melakukan hal buruk, segeralah ambil tindakan tegas. Kalau sebelum menjadi pasanganmu saja dia sudah berani melakukan hal buruk, bagaimana setelah nanti dia menjadi suamimu?

Kekerasan verbal itu adalah awal dari ketidakhormatan seseorang ke kita. Kalau belum jadi apa-apa saja dia sudah berani bertingkah tidak hormat begitu, bagaimana nanti?

Memilih suami itu seperti memilih pemimpin yang akan seumur hidup membimbingmu. Dia yang akan membimbing anak-anakmu juga, bahkan bukan tidak mungkin dia yang memimpin keluarga besarmu, kan?

Jangan tergoda sama bujuk rayu dan permintaan maafnya, apalagi hadiah-hadiah manis yang bikin kamu klepek-klepek, Nduk. Dirimu jauh lebih berharga dari seikat kembang atau sekerat berlian.

Untuk mamak-mamak yang sudah terlanjur memilih suami dan mengalami kekerasan dalam rumah tangga (verbal atau fisik), sedang emak masih ingin mempertahankan hubungan, gunakan mediasi dulu. Cari seorang yang dihormati oleh suami untuk menjadi penengah. Kalau bisa, orang ini tidak memihak emak atau suami.

Kalau dia memihak emak, suami akan merasa tidak adil dan kalau dia memihak suami, mungkin emak yang akan disalahkan.

Minta maaf pada suami jika memang emak memiliki salah yang membuatnya gelap mata. Maafkanlah suami dengan ikhlas jika emak memang masih ingin bersamanya.

Jangan lupa selalu doakan suami (perkuat ibadah emam) dan bacakan ayat kursi di makanan dan minumannya agar hatinya terbuka untuk kebaikan. Air yang diberi doa itu sejuknya sampai ke hati. Memang perjuangan seperti ini memakan waktu lama, Mak. Namun, semua tahu bahwa buah kesabaran itu ranum dan manis luar biasa.

Jika emak memang sudah tidak tahan dan tidak ingin bersamanya lagi, ajukan perpisahan dengan cara yang santun. Ajak anak-anak berdiskusi tentang apa yang mungkin akan mereka hadapi dan apa yang terjadi jika emak memaksakan diri untuk bertahan. Keluarga yang berantakan itu karena komunikasi yang kurang. Anak merasa tidak didengarkan dan orangtua merasa anak tidak perlu ambil peran dalam sebuah keluarga.

Jangan ambil keputusan pada saat marah, Mak. Ini akan membuat kita menyesal. Saat kita marah dan emosi, apalagi sampai jari-jari gemetar gitu intelektual kita menurun drastis. Kita dikuasai emosi dan nafsu. Makanya orang marah kan kelakuannya suka aneh-aneh.

Tenangkan diri dulu dan ambil keputusan dengan baik.

Seseorang yang benar-benar mencintaimu tidak akan tega untuk menyakitimu.
Laki-laki sejati tidak akan pernah mau menyakiti perempuan, bagaimana pun caranya. Laki-laki sejati menghormati orang lain sama seperti dia ingin dihormati oleh orang lain.

Kalau dia bukan lelaki sejati, saatnya kamu banting setir dan mencari seorang yang benar-benar lelaki, yang pantas memimpinmu dan keluargamu.

Untuk kamu yang paling cantik, saya tahu kamu membaca ini. Cintai dirimu sendiri dulu sebelum kamu berharap orang lain mencintaimu. Sayangi dirimu sendiri dulu sebelum siapa pun. Tersenyumlah, Sayang. Saya tahu kamu pantas mendapatkan kebahagiaan.

Iya. Kamu, Cantik!

Categories: Artikel

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).