“Facebook bukan Tuhan!” Itulah pernyataan seorang Mark Zuckerberg, yang adalah pendiri facebook. Pernyataan itu ia keluarkan karena banyak masyarakat net (pengguna facebook) yang berdoa di Facebook.

Beberapa orang menulis di statusnya, misalnya: “Ya Tuhan, mengapa semua harus terjadi seperti ini?” Oleh karena itu Mark menekankan bahwa berdoa itu mestinya tidak publish di facebook.

Doa harusnya pribadi dan di tujukan kepada Tuhan, sebab dengan demikian maka terjalinlah hubungan secara pribadi dengan Tuhan.

Seringkali dalam menghadapi masalah, kita menceritakan ataupun menuliskan persoalan kita di media sosial. Kebiasaan seperti ini bisa mengindikasikan bahwa seolah-olah kita kehilangan tempat untuk berlindung dan tempat untuk menyatakan pergumulan kita.

Dalam perikop ini, Elia menjadi pembawa berita yang Tuhan ingin sampaikan, “apakah tidak ada Allah di Israel, sehingga kamu ini pergi untuk meminta petunjuk kepada Baal-Zebub, allah di Ekron?” Hal ini juga bisa menjadi teguran bagi kita sebagai umat Tuhan yang hidup di era modern.

Kita disajikan dengan berbagai produk modern yang seringkali mengakibatkan kita tidak menomorsatukan Tuhan dalam pencarian solusi. Tidak jarang kita menjadi pribadi yang seperti kehilangan pengharapan dan seperti tidak “bertuhan”.

Saudara, apakah tidak ada Allah di sekitarmu sehingga engkau pergi meminta petunjuk di tempat lain? Apakah kita tidak percaya sama sekali bahwa Allah yang memberkati Israel juga mampu memberkati kita di era modern ini?

Tuhan itu tidak jauh! Dia bisa di jumpai dalam doa kita. Jadi tidak usah pergi ke tempat lain atau ke sumber lain untuk mencari pertolongan. Tugas kita adalah berkomunikasi dengan Tuhan yang dekat dengan kita. Amin

Categories: Kristen

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).