Sebuah acara syukuran dengan tampilan inti adat yang tidak berubah.

Tahukah kamu jika uang seonggok gunung pada penari adalah transformasi dari budaya Le’ke’ Bai dan Le’ke’ Tedong? Jadi dulunya Le’ke’ Tedong melambangkan pengeluaran atau pengorbanan untuk Tongkonan yang disyukuri. Yah, itulah kebudayaannya.

Kini karena tampilan lembaran uang lebih mudah untuk diaplikasikan, maka Le’ke’ mendapat akulturasi ke lembaran uang namun intrinsik penyampaian yang sama. Jadi jangan tiba tiba berpikiran ke rana Rasis Budaya saat melihat hal seperti ini.

Lalu ucapan syukur ini benar benar tidak boleh ada perselisihan didalam kekeluargaan. Karena jika melanggar maka dipercayai sukacita ini tidak diterima oleh Deata. Dan ini masih dipegang teguh sampai saat ini walaupun sudah tidak menganut kepercayaan dari Aluk Nene’.

Selain itu apakah kamu tahu arti dari lilitan benda bulat di kepala sang penari? Yah, itu terbuat dari susunan buah Terong. Ini beda dari Sa’pi’ manik manik.

Seperti foto dalam postingan ini, jika wanita memakai lilitan buah Terong bulat pada kepalanya berarti keluarga kecil dari wanita tersebut sudah betul betul matang dalam melakukan upacara tersebut.

Jadi tidak sembarang dipakai pada acara Merook. Maknanya tinggi soalnya.

Ada lagi yang unik. Jika kalian melihat tangkai kayu yang diatasnya dilekuk melengkung hingga mirip letter “P” lalu disisipkan ke rambut, berarti keluarga tersebut mengurbankan Babi seharga Kerbau yang paling kurang 30 juta dan jumlah model kayu tersebut diatas kepala menunjukkan jumlah kurban Babi sembelihan.

Jadi jika satu yang disisip maka satu kurban Babi seharga Kerbau pula yang telah dikorbankan.

Dokumentasi: Merok yang diadakan di Palawa, Tana Toraja

Sumber: Miracle Toraja


Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).