Gunung Bukan Tempat Asusila!

Sekarang ini dunia pendakian sedang diminati oleh banyak kalangan, khususnya kalangan muda. Usia muda adalah masa transisi, dimana pada masa ini adalah proses pencarian jati diri. Mempunyai rasa penasaran yang tinggi, ingin mencoba ini itu. Sehingga terkadang banyak anak muda yang terseret pergaulan bebas era saat ini. Bahkan di era saat ini, gunung seakan ikut kehilangan jati diri.

Gunung saat ini tidak lagi seperti dulu. Dulu mayoritas orang menganggap gunung itu mistis, menyeramkan, dan menakutkan. Membuat hanya sedikit orang yang berani mengunjungi. Namun berbeda saat ini, anggapan seperti itu perlahan mulai hilang karena maraknya dunia pendakian. Serasa tak ada lagi rasa takut ketika mengunjungi gunung, bahkan terkadang ada yang berani bersikap tidak senonoh saat di gunung.

Memang sudah menjadi rahasia umum, bahwa objek wisata bersuasana sepi nan sunyi menjadi favorit untuk dikunjungi khususnya bagi mereka para pemuda pemudi. Karena hal itu merupakan kesempatan mereka dalam memadu kasih bahkan sampai berhubungan int*m. Maka tak heran, jika gunung saat ini banyak dikunjungi mereka sepasang kekasih.
Tak heran pula beberapa waktu lalu saat 17-an banyak sampah, diantaranya ada sampah kond*m.

Fenomena seperti ini memang sudah banyak terjadi di gunung sekarang ini meskipun hanya sebagian para pendaki yang melakukan hal itu. Tetapi bagi kalian para pelaku, tidak perlu munafik karena membela diri. Akuilah kesalahan itu, dan berniatlah membenahi diri agar perbuatan itu tidak terulang kembali.

Gunung memang tempat yang indah dan romantis untuk dikunjungi. Maka harus kita jaga kelestarian dan keistimewaanya. Sama halnya dengan pasanganmu, perlakukan juga pasanganmu secara romantis dengan penuh kasih sayang serta menjaga keistimewaanya termasuk juga saat di gunung.

Oleh sebab itu, berperilakulah yang sopan saat di gunung. Mau percaya atau tidak, gunung mempunyai banyak misteri dan hal mistis didalamnya yang memang harus kita hormati.

Jadi mulai saat ini jangan sampai berbuat asusila saat di gunung. Kalau memang sudah pernah dilakukan, maka jangan sampai terulang kembali. Karena “gunung bukan tempat asusila”.

Sumber: Xaverius Endro