Ibu Lebih Sayang Adik Daripada Aku

Kepadanya yang kalimat ini sering terucap:

SEBENTAR YA

Malam itu dia bilang, “Ibuk, aku lapar”.

“Sebentar ya, tunggu adek tidur bentarrr lagi”.

Begitu katamu Bu, karena adik bayinya yang sedang menyusu sudah memejamkan matanya, sebentar lagi dia tertidur pulas.

Sebentar ya.

Dia menunggu sebentar, sampai tertidur dalam kondisi lapar.

***

Di malam yang lain dia bilang, “Ibuk, ayo main pancing-pancingan yuk”.

“Sebentar ya, adek bentar lagi udah tidur”.

Sebentar lagi katamu, Bu.

Karena lagi-lagi, si kakak memang waktu bermainnya jam tersebut, saat adiknya akan tidur.

“Adek masih nen ya?”, katanya sambil melirik ke adik.

“Iya.. Sebentar yaaa Sayang”.

Lalu dia bermain-main sendiri dan diam-diam keluar kamar mencari tante, akung atau utinya yang bisa menemaninya bermain.

AYO CEPETAN

Kepadanya yang kalimat ini sering terucap.

“Ayo cepetan keburu adek nangis nih”, katamu memandikannya dengan tergesa.

Padahal biasanya mandi sambil bermain air. Padahal biasanya mandi sambil bernyanyi.

Ayo cepat menjadi kalimat yang sering terucap.

***

“Ayo cepet makannya, adek udah nangis tuh”, katamu tergesa lagi.

Dulu yang biasanya bisa lebih sabar menunggu. Kini menjadi mudah menggerutu. Kini serba terburu-buru.

KAN UDAH BISA SENDIRI.

Kepadanya yang kalimat ini sering terucap.

“Ibuk gendong”, katanya saat melihat adik bayi juga digendong.

Lalu kau bilang Bu, “Jalan sendiri yaa, kan udah bisa jalan”.

Padahal si kakak yang batita ini sedang ingin diperhatikan, bisa jadi sedang insecure, karena dulu satu-satunya sedangkan sekarang jadi nomor dua.

***

Semua hal terasa seperti baru bagimu dan bagi anak pertama mu, Bu.

Dulu dia tidak perlu menunggu. Dulu dia tidak perlu diburu-buru.

Dulu kita masih bisa bersabar. Sekarang mudah sekali gusar.

Semua hal terasa baru bagi kita. Bagi ibu dan anak pertama.

Tapi kadang alih-alih mau mencoba mengerti ketidaknyamanannya, kita mementingkan diri sendiri ingin dimengerti bahwa kita lah yg paling ribet, paling rempong, paling capek ngurusin bayi dan ngurusin dia yang masih batita.

Padahal dia sering ikut berjoget menghibur adiknya agar tertawa.

Padahal dia belajar berbicara berbisik agar adiknya tidak terbangun.

Padahal dia, tempat kita belajar pertama sebagai orangtua.

Gapapa kita sama-sama belajar ya Nak. Ibu belajar lebih bersabar. Kamu belajar berbagi waktu, kasih sayang atau sekedar berbagi mainan.

Tunggu ya sampai adik bisa jalan.Kalian akan bermain bersama. Berlarian bersama. Berebut mainan lebih heboh pastinya

Sudah peluk anak pertama hari ini, Bu?