Kita kerap meminta sesuatu kepada Tuhan melalui doa. Sesuatu itu bisa banyak; pendamping hidup, hadiah, rejeki, pekerjaan, kesehatan, keluarga yang baik.

Tuhan memberikan apa yang kita minta tetapi sesuai dengan kehendak-Nya. Ia memahami apa yang paling kita butuhkan.

Ketika anda meminta hadiah, Ia memberikan suami bagi isteri dan sebaliknya. Bagi yang telah berkeluarga, “hadiah” terbesar dan “hadiah” yang hidup dari Tuhan adalah pasangan hidup dan anak-anak yang hadir dalam hidupmu dalam suka dan duka, untung dan malang, sehat dan sakit.

Kalau dalam keluarga ada kurang harmonis berarti anda tidak menghargai hadiah dari Tuhan. Menghargai suami dan isteri itu juga menghargai Tuhan yang telah menganugerahkannya untukmu. Menerima pasangan itu juga menerima Tuhan yang menjadi pemrakarsa utama dalam hidup berkeluarga.

Ketika anda meminta rejeki dalam doa Bapa Kami atau dalam doa yang lain, Tuhan memberikan kesehatan bagimu. Ini adalah rejeki terbesar dan terindah. Melalui kesehatan anda bisa beraktifitas dan bekerja. Anda bisa mendatangkan rejeki. Anda bisa membantu. Anda bisa menjadi berkat bagi sesama. Kalau anda belum sukses, mungkin karena kesempatan itu masih perlu diperjuangankan. Mungkin juga anda belum maksimal berusaha. Atau kalau masih belum, tetaplah sabar dan berpengharapan. Tuhan akan menolong kita dengan cara-Nya.

Dalam konteks rohani, rejeki yang paling agung ialah tubuh-Nya sendiri yang kita terima saaat kita menghadiri Perayaan Ekaristi. Roti Kudus yang memberikan kita hidup. Hosti yang memberikan kita kehidapan yang kekal. Roti yang turun dari Sorga yang mengenyangkan kita selamanya.

Ketika kita meminta pertolongan, Tuhan “menghadiahkan” teman/sahabat atau saudara-saudari kepadamu. Teman yang mengerti anda dan memahami perasaanmu. Saudara yang selalu berada di sisimu. Yang mendukungmu dalam setiap aneka peristiwa hidupmu. Dan walau kadang teman itu tidak kelihatan tetapi perannya melalui doa dan dukungan selalu ada (eksis). Sekali lagi apapun yang anda mohonkan Tuhan akan dengarkan dan kabulkan.

Sekarang PERTANYAAN, apakah yang Tuhan minta dari kita mampu kita laksanakan. Ini tetap berkaitan dengan yang di atas. Ketika Tuhan meminta kita menjadi “hadiah” “rejeki” dan penolong bagi sesama apakah kita mau dengan terbuka, tulus ikhlas dan dengan penuh sukacita.

Dalam Galatia 6:2 dikatakan, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Dan dalam Galatia 6 : 10 ditegaskan, “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”

Sumber: Yos’Ivo Ofmcap Yosin

Categories: Kristen

Tofan

Prinsip Hidup: Cogito Ergo Sum (Aku Berfikir Maka Aku Ada), Namun berfikir saja tidak cukup, Apa yang harus saya lakukan agar " Menjadi Ada". Jawabannya adalah Berkarya (Aku Berkarya Maka Aku Ada).