Seberapa Sucikah Diri Kita Sehingga Kita Seenaknya Jadi Hakim Bagi Dosa Orang Lain?

Jangan menghakimi kalau tidak ingin dihakimi

Ada seorang pelacur diarak keliling kampung, setelah itu ia akan dilempari batu sampai mati sesuai hukum adat.

Ditengah kerumunan masa yang membawa batu, ada seorang sahabat berkata “Barang siapa diantara kalian yang tidak berbuat dosa, hendaklah ia yang pertama melempar wanita itu dengan batu dan selanjutnya kalian semua boleh juga meleparkannya dengan batu”

Mendengar perkataan itu satu persatu warga meninggalkan wanita pelacur itu. Setelah kejadian itu, wanita pelacur bertobat dan berjanji tidak akan mengulanginya.

Banyak diantara kita yang suka menghakimi orang terpinggirkan. Padahal kita hidup dibawa hukum negara. Taurat berkata pemerintahan adalah kepanjangan tangan Tuhan. Tapi sebaliknya banyak warga yang suka menghakimi.

Jadilah penabur garam perdamaian yang merangkul orang-orang terpinggirkan. Siapa orang terpinggirkan?

Mereka itu pelacur yang bukan harus kita lempari batu tapi kita rangkul dalam pertobatan. Mereka itu pengemis yang bukan kita hina tapi kita beri makan.

Mereka itu narapidana yang bukan kita musuhi tapi kita rangkul akan pengenalan kepada ilahi. Mereka janda yang bukan kita lecehkan martabatnya. Mereka anak yatim yang bukan kita pandang sebelah mata. Mereka yang menghina Tuhan yang bukan mereka kita pukuli tapi ajarkan isi kitab yang meluruskan jalan.

Sebab siapakah kita?
Hakim Tuhan?
Tangan Tuhan?
Pembela Tuhan?
Penjaga nama baik Tuhan?
Seberapa kita suci sehingga jadi hakim Tuhan?
Seberapa kita lebih hebat ilmu agama dari nabi sehingga jadi Tangan Tuhan?

Kurang kuasa kah Tuhan sehingga perlu pembela seperti diri kita? Apa Ia tak mampu membawa bala tentara sorganya?

Apakah jatuh derajat Tuhan ketika namanya dihina? Apakah Tuhan kurang kekuasaan sehingga perlu diri kita terbakar emosi saat namanya dilecehkan?

Memang ada isi Taurat berkata jangan sebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan.

Ingat murkanya cukup bagi orang yang berkata kotor, azabnya lebih perih, siksaan neraka lebih pahit. Tapi kita saudara hendaknya merangkul mereka dalam pertobatan.

Allah bukan hanya adil tapi Ia penuh pengampunan. Adalah lebih indah jika umatnya berbalik mencintainya.

Rangkullah orang-orang dalam perdamaian dengan Allah. Jangan hakimi mereka karena bukan hak kita, itu hak yang kuasa.

Sebab kita juga penuh cacat celah berdosa, saat kita berbuat dosa itupun melecekan nama Allah karena kita memanggap diri kita umatNya.

Maka itu rangkul mereka yang terpinggirkan. Kita tujukan betapa Allah sebenarnya mengasihi mereka sehingga penyesalan dan pertobatan ada diri mereka.

Sebab takaran yang kamu pakai untuk menghakimi orang, takaran itu juga yang akan dipakai untukmu.

Deddy Tjhinz