Ayah Ibu, Semoga Allah Memudahkan Jalanku Untuk Membahagiakanmu

Membahagiakan kedua orang tua adalah harapan terbesar seorang anak, dan bahkan bisa menjadi penyemangat dan motivasi dalam hidup untuk bekerja keras.

Perlu disadari bahwa membahagiakan kedua orang tua hanya datang satu kali dalam hidup dan kita berharap suatu hari nanti mereka dapat bahagia di akhir hidup mereka sebelum berpisah dari dunia ini.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk membahagiakan kedua orang tua, namun terkadang apa yang diharapkan tak sesuai dengan realita.

“Maafkan Aku, Bu!” Cerpen By Amelmelia Pertiwi

“Nak, Ibu butuh uang untuk biaya adikmu sekolah. Barangkali kamu sedang ada rejeki tolong dibantu yah.” Isi pesan Ibu di aplikasi berwarna hijau.

Tentu, ini bukan yang pertama kali ibu memintaku membantunya. Sering sekali Ibu meminta tolong tapi sesering itu juga aku meminta maaf. Jujur aku bingung jika ibu sudah meminta tolong. Sebagai anak aku tidak ingin mengecewakannya. Ingin sekali rasanya membahagiakan kedua orang tua. Tapi apa daya keadaan ekonomiku belum juga membaik. Meski suami sudah banting tulang bekerja. Pada akhirnya, Ibu juga mengerti jika aku belum bisa membantunya. Aku tahu ia pasti kecewa. Tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa.

***

“Bu, aku berjanji akan belajar sungguh-sungguh agar aku bisa menjadi orang yang sukses dan bisa membahagiakan Ibu dan Bapak.”

Janjiku pada ibu 10 tahun silam saat aku duduk di bangku SMA. Ibu langsung memeluk dan mengaminkan cita-citaku.

Dulu aku anak yang cukup berprestasi di sekolah. Aku anak pertama dari 4 bersaudara. Sebagai anak pertama besar rasanya orang tuaku mengharapkan agar kelak aku bisa membantu perekonomian mereka. Bapakku seorang PNS yang bergaji pas-pasan. Meski penghasilan bapak tidak terlalu besar kami hidup berkecukupan. Kami bisa bersekolah dengan tenang tanpa tunggakan uang SPP. Tak pernah juga kami kekurangan makan. Alhamdulillah.

Aku anak yang rajin belajar sehingga nilai-nilai selalu bagus. Aku bisa masuk PTN ternama dengan mudah. Membayangkan suatu saat bisa menjadi orang yang sukses dan bisa membahagiakan kedua orang tuaku.

Namun, terkadang manusia hanya bisa berencana. Siapa sangka saat duduk di bangku kuliah aku sudah dilamar oleh Mas Reza. Dia adalah kakak tingkatku di kampus. Meski usianya masih terbilang muda ia cukup dewasa. Ia lelaki yang soleh dan bertanggung jawab. Ah ya.. ia juga pekerja keras. Ia sudah berwirausaha sejak di bangku kuliah. Melihat kegigihannya dalam berjuang akupun jatuh cinta padanya. Aku tak bisa menolak ajakannya untuk menikah. Ia sudah terlalu sempurna bagiku. Rasanya aku tak yakin akan menemukan lelaki sebaik dia di kemudian hari.

“Dek, Mas gamau pacaran. Mas maunya kita menikah” ucapnya di sebuah pesan singkat.

Entah apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasa berada di persimpangan dilema. Jujur akupun mencintainya tapi aku belum siap menikah. Tak pernah sedetik pun aku berfikir akan menikah muda. Tapi ia terlalu istimewa untuk ditolak. Akupun menunaikan shalat istikharah agar diberi jalan terbaik. Aku berdoa jika memang Mas Reza adalah jodohku, dekatkanlah. Tapi jika bukan, jauhkanlah.

Hari demi hari berlalu. Kami makin sering menjalin komunikasi. Mas Reza  pun memberanikan diri mengutarakan keinginannya kepada kedua orang tuaku. Dan orang tuaku pun menyukai Mas Reza karena ia santun sekali. Tak butuh waktu lama kami pun bertunangan. Selulus kuliah kami pun menikah.

Awalnya berpikir, setelah menikah akan mencari pekerjaan demi bisa meringankan beban orang tua. Teryata takdir berkata lain. Aku positif hamil sebulan setelah kami menikah. Aku bingung. Bukannya tidak bahagia menjadi seorang Ibu. Namun rasanya saat itu aku belum siap. Bagaimana dengan harapan kedua orang tuaku?

Lahir anak pertama aku berencana untuk bekerja. Lagi-lagi aku galau jika harus meninggalkan buah hatiku. Aku tak rela jika kelak ia diasuh oleh orang lain. Aku pun berusaha berdamai dengan kondisiku. Setahun kemudian aku kembali dikaruniai anak kedua. Saat itu aku benar-benar merasa aku harus fokus saja menjadi seorang Ibu Rumah Tangga. Toh suamiku juga masih bisa mencukupi kebutuhanku dan anak-anak.

Semakin lama keadaan ekonomi kami semakin membaik. Usaha Mas Reza semakin berkembang. Kami hidup berkecukupan dan bisa memberi kepada kedua orang tua kami meski jumlahnya belum begitu banyak.

Sayangnya kondisi ini tidak berlangsung lama. Usaha Mas Reza bangkrut seketika karena ditipu rekan bisnisnya. Uang senilai ratusan juta raib sudah dan menyisakan hutang disana- sini. Jika tak kurang iman mungkin aku sudah sangat stress menghadapi musibah ini. Namun aku harus kuat dan bertahan melalui semuanya.

“Nak, hari ini adikmu butuh uang untuk membeli buku, bisa tolong bantu Ibu, Nak?”

“Maafkan aku, Bu. Aku belum bisa membahagiakan Ibu dan Bapak.” kubalas pesan singkat Ibu dengan rasa sesak di dada.