Jika Tidak Mampu Meringankan Beban Orang Lain, Maka Jangan Menambah Bebannya Dengan Omongan Liarmu

Kemarin sore tanpa sengaja saya bertemu seseorang di Gua Maria. saya melihatnya menangis dalam doa (entah apa yang sedang dia rasakan) tapi saya tidak berani mendekatinya, saya justru duduk penuh dengan kekuatiran, wajarlah hari sudah mulai gelap, juga tempat itu yang sepi. ‘Semoga saja dia sungguh manusia nyata’, itu harapan saya.

Singkat cerita, rupanya kami saling kenal walaupun belum pernah bertemu sebelumnya. Entah karena sudah tidak sanggup untuk menahan beban lagi atau karena didorong rasa percaya, akhirnya dia mulai bercerita tentang pergulatannya sekarang.

Hidupnya penuh dengan beban. Dia selalu dijadikan bahan gosip yang horor oleh orang lain, ‘perempuan penggodalah, wanita tidak baiklah’, itulah beberapa stempel kehororan yang diberikan orang-orang kepadanya.

Dia merasa dia tidak pernah membuat sesuatu yang fatal. Bahkan niat untuk menggoda lawan jenisnya pun tidak pernah terlintas dibenaknya.

Sebagai anak pertama dalam keluarganya, dia selalu tahu bagaimana membawa dirinya karena nama baik keluarga selalu menjadi prioritasnya dalam bergaul.

Sungguh horor…

Kita hidup dalam kebersamaan. Setiap pergerakan kita akan selalu direkam oleh cctv (mata) orang lain. Saya yakin cukup banyak orang-orang yang hidupnya penuh beban hanya karena omongan orang dengan berbagai versi.

Okelah, kita bisa saja menghibur dengan mengatakan bahwa, ‘kenapa harus dengar omongan orang? Sudahlah jangan dipikirkan’, ‘Mereka kan hanya orang-orang labil yang sedang mencari kesibukan dengan omong orang lain tanpa tahu kebenarannya’.

Tapi bukankah setiap orang berbeda? Kita selalu berpikir dari caranya kita (yang sedang tidak ditimpa masalah) dan memaksa orang mengikuti nasihat kita tanpa pernah belajar untuk keluar dari diri kita dan berpikir dengan cara mereka yang sedang terluka.

Dikatain itu sakit, sungguh. Apalagi jika perkataan itu salah. Tapi itulah hidup, kadang kita mesti berjalan ditengah batu kerikil yang tajam, kadang juga kita harus berjalan dipinggir tebing yang curam.

Saya hanya mau bilang, rasa sakit itu terjadi karena kita membuka ruang dalam diri kita untuk menerima rasa sakit itu. Ketika saya membiarkan rasa sakit itu masuk, maka saya akan merasakan sakit itu, bahkan jika saya tidak bisa mengontrol, maka saya akan dengan mudah dikuasai oleh rasa sakit itu dan itu justru akan membuat kita semakin terpuruk dalam keadaan.

Bukan mereka yang melukai kita dengan omongan mereka, tapi kita yang melukai diri kita dengan omongan mereka. Itu yang sering terjadi..
Lalu apa yang harus kita lakukan?

Tetap jadi diri sendiri. Tetap buat kebaikan bahkan untuk mereka yang membenci kita. Setiap omongan mereka bukanlah tolok ukur bagi kita untuk berbuat baik. Mereka bukanlah dewan juri dan kita tidak sedang mengikuti kontes kebaikan.

Masuklah ke kedalaman hatimu, berbicaralah dengan dirimu. Toh, hingga saat ini kamu masih kuat berdiri itu bukan karena lemahmu.

Dan Tuhan sedang memperhitungkan penderitaanmu. Pembalasan terbaik untuk mereka bukanlah makian atau sindiran, bukan pula balas menggosip atau ajak bertengkar, tapi pergilah dan berbicaralah dengan Tuhanmu. Biarkan Tuhanmu yang mengurusnya.

Dan terakhir, jangan pernah mencoba membandingkan hidup (penderitaan)mu dengan orang lain, itu tidak akan membantumu menyelesaikan masalahmu. Setiap orang sudah punya porsi penderitaan masing-masing, sama berat, sama ringan.

Dan untuk kita yang terbiasa mengumbar kehidupan orang lain. Pada dasarnya kita tidak suka disakitikan? Kalau begitu berhenti menyusahkan orang lain dengan omongan kita yang tidak ada landasan kebenarannya.

Cari kesibukan lain, itu lebih baik daripada menghabiskan waktu hanya untuk menyakiti orang lain.. Entah itu dalam bercanda atau serius, karena kita tidak pernah tau apakah orang lain akan baik-baik saja dengan omongan kita atau tidak.

Jika kamu tidak mampu untuk meringankan beban orang lain, maka jangan menambah bebannya dengan omongan liarmu.

Oleh: Kaneld Seran