Ziarah Pangggilanku Sebagai Seorang yang Terpanggil

Panggilanku adalah sebuah anugerah terindah yang diberikan dengan cuma-cuma dari Tuhan. Panggilan hidup yang sungguh mulia dan berharga. Aku merasa terpanggil untuk bekerja di ladang Tuhan bukan melihat kehidupan seorang Biaraman/i melainkan muncul dengan sendirinya dari kedalaman diriku. Keingginanku pertama bekerja di ladang Tuhan adalah meneruskan  misi Tuhan Yesus dan sekaligus memperbaiki hidup. Dalam perjalanan panggilan hidupku, aku tidak berjalan sendirian tetapi banyak orang  dengan caranya masing-masing berjalan bersamaku dengan cara mendukungku, agar aku tetap setia. Mereka mendukungku dengan cara hidup mereka, tutur-kata mereka, tingkah-laku mereka dan pembawaan diri ketika berpapasan dengan orang lain. Aku menyadari bahwa itu semua merupakan cara Tuhan menegurku karena Dia mencintaiku, mengharapkanku untuk tetap setia dalam jalan panggilan hidup ini.

Dalam menjawabi panggilan Tuhan, aku sering jatuh dipersimpangan hidup antara kegagalan dan keberhasilan. Itu semua merupakan cobaan dari Tuhan. Itulah tantangan dan kesulitaan hidup yang harus kupikul selama hidupku. Tetapi aku tidak menyerah, aku menghadapinya dengan senyum. Karena aku tahu Tuhan akan menguatkanku untuk menghadapi semuanya. Tuhan itu sungguh berarti dalam hidupku, Dia menuntunku pada jalan yang benar, memberiku rahmat agar aku mampu dan tetap setia di jalan panggilan ini.

Terkadang hidup ini terasa sangat menyenangkan dan sangat menjengkelkan. Tetapi pribadi manusia begitu unik dalam mengartikan semuanya itu, karena setiap pribadi manusia memiliki ketangkasan diri untuk menghadapinya, ada yang menghadapinya dengan menggugurkan air mata dan juga tersenyum. Itulah eksistensi manusia sebagai mahkluk hidup berasional dan berbudi. Dalam perjalanan hidup dan panggilanku ini banyak pengalaman hidup yang aku lalui, ada yang menyenangkan, ada juga yang menjengkelkan. Semuanya dipengaruhi baik faktor eksternal maupun internal dalam diriku.

Sesungguhnya awal tumbuhnya panggilan hidup untuk bekerja di ladang Tuhan, semenjak aku duduk di bangku Sekolah Menegah Pertama (SMP). Namun dalam perjalanan, banyak kisah hidup yang sungguh membuat panggilanku semakin kuat dan juga membuat panggilanku semakin suram. Pertama yang membuat panggilanku semakin kuat, ketika keputusanku untuk melanjutkan pendidikan di SMA Seminari San Dominggo Hokedng. Awalnya memang orang tua tidak mengiakan karena kehidupan ekonomi terutama biaya, karena biaya sekolah Seminari begitu mahal. Adapun kakak pertama masih bersekolah di Seminari dan adik perempuan masih di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) sedangkan adik laki-laki bungsu masih di bangku Sekolah Dasar. Apalagi pekerjaan orang tua hanya petani biasa dengan penghasilan yang cukup. Tetapi Tuhan dengan cara-Nya sendiri mengetok pintu hati kedua orang tua agar mengiakanku untuk masuk Seminari. Aku merasa bersalah telah memaksa orang tua untuk memenuhi keinginanku. Aku merefleksikannya bahwa tidak ada satupun orang tua yang  menolak ketika anaknya memutuskan untuk mengejar cita-cita demi masa depannya. Aku menyadari bahwa dengan niatku untuk menjadi seorang Imam pasti orang tua mengiakan bahkan mereka merasa senang dan bangga.

Setelah orang tua mengiakan aku untuk masuk Seminari, aku  dengan senang hati untuk melanjutkan panggilanku. Ketika aku masuk Seminari, ayah kemudian memutuskan untuk  mencari uang di Kalimantan. Ibu berjuang mencari uang dengan memelihara hewan. Semuanya ini karena demi panggilanku, mereka mendukungku dengan merelakan untuk berpisah sementara demi membiayai sekolahku. Selama aku bersekolah di Seminari, panggilanku semakin bertumbuh subur. Selama bersekolah di Seminari, banyak pengalaman hidup yang aku lalui. Pengalaman hidup yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Semua pengalaman hidup yang kulalui merupakan awal aku berlangkah untuk bertanggung jawab akan pilihan hidupku sebagai pekerja di ladang Tuhan.

Suatu hari persis di waktu subuh ketika aku berlibur di rumah, ibu dengan sedih datang dan tidur di sampingku. Aku pun terkejut, tetapi ibu tersenyum meskipun wajahnya sedikit sedih. Ibu kemudian mensyeringkan bahwa keadaan uang sekarang krisis karena ayah belum terima gaji apalagi kakak pertama juga membutuhkan uang untuk masuk Frater. Sempat ibu mengatakan bahwa nanti masuk sekolah aku membawa seekor Kambing untuk dijual di Seminari agar aku bisa membayar uang sekolahku. Aku merasa malu dan dengan sedih mengatakan kepada ibu bahwa biarlah nanti kita tawarkan Kambing kepada siapa saja yang membutuhkan, biar dengan harga murah. Tetapi dengan kesadaran baru, aku dengan sedih mengatakan kepada ibu, bairlah sambil menunggu, aku menggunakan uang yang ada. Kalau nanti ibu ada uang bisa bayar uang sekolahku.

Waktu kembali ke seminari menengah, aku diberi uang hanya Rp. 50.000. Aku menggunakan uang itu dengan rincian, uang perjalanan Rp. 10.000, uang perelngkapan mandi Rp. 20.000, uang buku dan pulpen Rp. 10.000 sedangkan sisanya aku simpan temani dompetku. Ketika aku menggunakan uang tersebut, aku selalu ingat susahnya orang tua mencari uang. Adapun uang tersebut aku menggunakannya selama dua bulan sambil menunggu ibu mengirimkan uang. Aku melihat semuannya ini bukan beban tetapi sebuah kemenangan untukku karena aku bisa menggunakan uang dengan baik meskipun uangnya sedikit. Aku tahu bahwa Tuhan mempunyai rencana sendiri nanti akan indah pada waktunya. Ketika ibu memberiku uang tersebut sempat ibu meneteskan air mata dan mengatakan bahwa; nak…cuma ini saja yang ibu berikan untukmu, nanti ibu jualan di pasar, baru ibu kirimkan kamu uang. Aku menerima uang itu dengan sedih karena aku ingat bagaimana susahnya mencari uang. Apalagi menunggu hasil jualan di pasar. Pekerjaan menjual di pasar pernah aku melakukannya ketika aku masih Sekolah Menengah Pertama (SMP), di mana waktu itu aku bersama ibu memikul hasil kebun dari kebun dan memersiapkannya hingga menjuallnya di pasar. Tentunya berat bagiku waktu itu saat mencari uang.

Dalam perjalanan waktu dan genap dua bulan ibu mengirimkan uang untukku. Itu pun hanya Rp. 100.000 sebagai uang saku sedangkan uang sekolah aku pun kurang tahu karena ibu pernah mengatakan bahwa aku tidak boleh memikirkan tentang uang sekolah, itu urusan mereka, aku hanya urus sekolah. Memang benar apa yang dikatakan ibu, selama aku bersekolah di Seminari, uang sekolah tidak pernah tunggak. Aku hanya tahu untuk sekolah. Itulah cara orang tua membahagiakan sekaligus mendukungku untuk terus maju dalam jalan panggilan hidupku ini.

Namun aku juga sempat merasa terluka ketika aku kelas X Seminari, di mana ibu dengan diam-diam mengikuti  ayah ke Kalimantan. Itupun aku mengetahunya saat aku berbicara dengan ibu melalui via telepon. Awalnya aku berpikir ibu di kampung ternyata di Kalimantan dan lebih sakit lagi yakni ibu bukan bekerja dengan ayah tetapi ibu bekerja sendiri di tempat lain. Aku menangis mendengar semuanya itu. Aku merasa terpukul karena ibu pergi meninggalkan adik laki-laki bungsu dan adik perempuan di rumah. Sedangkan kakak pertama Frater SVD di Novis kuwu-Manggarai. Pokoknya aku merasa sedih melihat semuanya ini. Sempat aku marah dengan ibu karena ibu pergi ke Kalimantan tanpa kabarinku. Tetapi ibu dengan nada sedih meminta maaf kepadaku. Itulah pengalaman yang sungguh membuatku terpukul tetapi aku menyerahkan semua beban itu kepada Tuhan lewat doa. Mungkin inilah ujian dari Tuhan untukku. Aku merasa dengan pengalaman menyakitkan ini, aku semakin kuat dalam menjawabi panggilan Tuhan ini.

Dalam perjalanan waktu, aku mendapat pengalaman terluka lagi ketika kakak pertama keluar dari Frater. Aku mulai merasa putus asa. Apalagi ibu di Kalimantan juga sakit karena tangannya terkena parang dan masuk rumah sakit. Jujur waktu itu aku menangis betapa sedihnya kehidupan keluarga kami. Aku tidak menceritakan semuanya itu kepada siapa saja, cukup aku dan Tuhan yang tahu. Aku bergulat meskipun rasanya sakit. Inilah beban hidup yang sungguh berat bagiku. Inilah salib hidup yang harus aku pikul. Aku mempunyai perinsip bahwa di ujung salib pasti ada kemenangan yang aku raih meskipun sakit terus menggerogoti.

Setelah aku menamatkan pendidikan di Seminari, aku memutuskan untuk melanjutkan panggilanku di Novisiat SVD Nenuk-Atambua-Timor. Di sini pun aku mengalami suatu pengalaman yang menyakitkan karena uang persiapan dan perjalanan pun belum mencukupi. Waktu itu ibu juga sudah pulang dari Kalimantan sedangkan ayah masih di Kalimantan. Aku tidak tinggal diam, aku berjuang mencari uang dengan mengikuti kerja borongan bangunan. Aku bekerja selama satu bulan dan mendapat uang Rp.1.000.000. Uang itu aku gunakan untuk membeli perlengkapanku sedangkan uang perjalana serta uang pembayaran di tanggung oleh ayah dan ibu. Aku juga mendapat sumbangan sedikit dari kakak pertama yang meskipun sementara kuliah tetapi menyisihkan waktu untuk mencari uang untukku. Itulah beban hidup yang tidak pernah luput dalam hidupku. Aku merasa itulah susahnya menjawabi panggilan Tuhan, banyak tantangan dan kesulitan yang aku harus hadapi.

Tibah saatnya aku melanjutkan panggilanku. Kendala yang aku alami waktu itu adalah perjalanan untuk sampai ke Novisiat SVD Nenuk-Atambua-Timor. Jujur, aku belum mengetahui tempat tersebut. Tetapi aku dengan keyakinan penuh untuk jalan. Adapun aku sendiri yang jalan tanpa didampingi orang tua dan keluarga. Dalam perjalanan terutama ke Kupang, di mana ketika turun dari kapal. Waktu itu sempat ada orang mengancam aku karena kekeliruan sedikit yang aku buat. Pertama persoalan mengenai keluarga yang datang menjemputku, katanya mobil pribadi tidak boleh datang jemput di pelabuhan karena dilarang. Satu lagi keluarga yang datang menjemputku pun tidak kuketahui karena mereka sudah lama tinggal di Kupang sejak aku bayi. Aku juga waktu itu menggunakan Hendphone untuk bisa kontak dengan keluarga di Kupang yang nantinya menjemputku. Hanphone yang aku gunakan adalah Nokia senter dan sering onar. Dan handphone itu pun aku titipkan di keluarga untuk nantinya dikirim kembali ke ibu. Setelah melewati pengalaman diancam, puji Tuhan keluarga pun datang menejmputku. Aku merasa senang. Aku merefleksikan bahwa dengan ancaman yang aku terima merupakan cara Tuhan menguji kekuatanku, apakah aku mampu menghadapinya atau tidak.

Setelah satu minggu di Kupang bersama keluarga, aku pun melanjutkan perjalanan ke Novisiat SVD Nenuk. Dalam perjalanan aku bersama kedua temanku yang juga masuk Frater di Novisiat SVD Nenuk. Dalam perjalanan banyak kisah dan cerita yang kami alami dan bagikan. Langsung saja saat kami tiba di Novisat SVD, aku merasa senang dan bangga karena aku bisa melanjutkan perjalanan panggilanku. Setelah dua minggu persis pada tanggal 25 Agusuts 2019, aku mengenakan pakian biara. Aku merasa panggilanku semakin kuat meskipun orang tua tidak menghadiri acar penerimaan pakian biaraku. Dan malam itu pun aku menuliskan sebuah surat kecil dan menyimpannya di bawah bantal.

*

Ibu, ketika wajahmu berkeliaran dalam batok kepalaku. Semuanya berubah menjadi rindu. Rindu yang tak pernah lenyap dalam hidupku. Karena kau sangat berharga bagiku, melalu tanganmulah aku dibentuk menjadi manusia yang selalu berharga di mata Tuhan dan sesama.

**

Ibu, meskipun aku selalu membuatmu sakit hati tetapi kau tak pernah membiarkan aku sendirian untuk mengarungi samudera panggilan ini. Kau selalu menemaniku ketika aku menderita sakit. Kau selalu mengajariku untuk menjadi manusia bermoral. Cintamu sungguh luar biasa. Cintamu menguatkanku untuk menjawabi panggilan hidupku ini. Dan sekarang aku sudah mengenakan pakian biara dan itu semua aku perjuangkannya hingga menjadi Imam.

Itulah perjalanan panggilanku yang penuh dengan tantangan dan kesulitan. Perjalanan hidup yang membutuhkan keberaniaan karena panggilan mengikuti Tuhan bukan perjalanan yang asa-asalan. Tuhan memanggil orang dari keurangan karena di sanalah terdapat kesungguhan untuk menjadi pewarta sabda-Nya. Aku menyadari semuanya itu dan selalu mengandalkan Tuhan lewat doa karena aku tahu Tuhan pasti menunjukan jalan yang pasti untuku.

(Oleh: FR. Epi Muda, SVD, sekarang sedang menjalankan pendidikan di STFK Ledalero tingkat I. Penulis berdomisili di biara SVD Unit Gabriel)