Lulus Sarjana Kok Kerja Ini, Lulus Sarjana Kok Kerja Itu? Lah Emang Salah ya?

Lulus sarjana kok malah jadi petani?
Lulus sarjana kok malah jual buku?
Lulus sarjana kok malah jualan baju?
Lulus sarjana kok malah jadi petani?
Lulus sarjana kok malah jualan bubur ayam?
Lulus sarjana kok malah begini dan begitu?

Terkadang lingkungan kita bahkan diri kita sendiri  hanya menganggap bahwa bekerja itu hanya di ruangan kantor, memakai seragam rapi, berpantofel, di ruangan ber-AC, pergi pagi pulang sore.

Bekerja tidak hanya sebatas itu. Tidak salah memang, tapi itu hanya bagian terkecil saja dalam dunia pekerjaan. Makna pekerjaan itu kalau kita memahaminya lebih dalam, sebenarnya luas sekali.

Terkadang orang lain bahkan kita sendiripun bermindset bahwa bekerja itu harus di kantoran. Kalau ngak kantoran bukan bekerja namanya. Perlahan-lahan kita menumbuhkan rasa gengsi pada bidang pekerjaan selain kantoran. Maka tidak heran banyak sarjana (bahkan lulusan S2) yang akhirnya menganggur.

Karena mindsetnya tadi bekerja itu hanya kantoran, sedangkan yang melamar untuk bekerja kantoran itu ribuan orang dan yang diterima beberapa orang saja.

Memang apa salahnya sarjana yang memilih menjadi petani?

Apa salahnya sarjana yang memilih jualan bubur ayam dengan gerobak?

Apa salahnya sarjana yang jualan es buah di pinggir kampus tempat dia kuliah dulu?

Tidak ada yang salah! Yang salah adalah diri kita karena gengsi yang terlalu tinggi sehingga sehingga dengan gamoang mengotak-ngotakkan pekerjaan, harus begini harus begitu.

Bayangkan

Sarjana yang menjadi petani mengelola ratusan hektare tanah, memberdayakan petani lain, memasarkan produk pertaniannya lebih luas dengan ilmu sarjananya. Pertanian di desa jadi berkembang, warga desa bahagia, banyak orang terbantu.

Bayangkan

Sarjana yang jualan bubur ayam. Awalnya dari satu gerobak menjadi puluhan gerobak. Memberdayakan orang. Mengonsep gerobak dengan desain yang menarik, membuat branding, menjual bubur ayam dengan pelayanan yang baik serta bersih dan higenis. Membeli bahan baku dari desa, ekonomi berjalan.

Rasa gengsi itu secara tidak sadar membuat kita susah untuk maju dan mengotak-ngotakkan pekerjaan. Kalau lulus S2 minimal kerjanya ini, kalau lulus S1 minimal kerjanya itu. Kalau selain itu kita merasa malu dan gengsi dengan pekerjaan.

Intinya

Milikilah mindset yang benar, bagaimana kita berpikir, bagaimana kita memandang pekerjaan, dan bagaimana kita berpikir jauh kedepan.

Penulis: @robiafrizan1