Menikah Adalah Pilihan Bukan Kewajiban Atau Sekedar Perlombaan

Alangkah indahnya ketika menyaksikan seorang kakek dengan tertatih-tatih menggenggam tangan istrinya dan berjalan bersanma memasuki usia senja.

Alangkah romantisnya kala memandang seorang nenek mencabut rambut uban suaminya sambil bercerita tentang masa sulit yang pernah mereka lalui bersama.

Tangan yang sudah menua, masih lihai merajut kebersamaan. Jantung yang semakin lemah, masih kuat menggenggam kesetiaan. Keriput wajah menggariskan ketegaran dalam waktu.

Ya, semua orang bisa menikah, tetapi tidak semua bisa mempertahankan pernikahan. Sebab tidak mudah merajut kebersamaan. Tidak gampang menggenggam kesetiaan.

Perjalanan pernikahan pasti melewati turunan dan tanjakan, pasang surut dan aneka cobaan. Ada yang kuat sehingga tetap bertahan. Ada yang rapuh sehingga harus berpisah.

Namun kita tidak bisa sepihak menghakimi mereka yang akhirnya berpisah di tengah jalan karena mungkin punya pertimbangan, tujuan dan alasan yang hanya mereka ketahui.

Kita juga tidak boleh seenaknya mengomentari keputusan untuk berpisah karena kita tidak tahu seberapa hebat pergulatan dan permasalahan sampai akhirnya memutuskan untuk berpisah.

Pada dasarnya, setiap pasangan ingin merajut kebersamaan dan menggenggam kesetiaan hingga maut memisahkan. Namun ternyata zona misteri dalam perkawinan sulit diprediksi. Kadang berpisah, bagi pasangan tertentu, menjadi kompromi agar tidak saling menyakiti.

Yang jelas, menikah adalah sebuah pilihan bukan kewajiban atau sekadar perlombaan.

©️ Alafa